News

Pakar Seni dan Budaya, Winahyu Dwi Anggono Putro : Gunung Gajah Layak Jadi Ikon Pemalang,Bukan Sekedar Destinasi Wisata

×

Pakar Seni dan Budaya, Winahyu Dwi Anggono Putro : Gunung Gajah Layak Jadi Ikon Pemalang,Bukan Sekedar Destinasi Wisata

Sebarkan artikel ini

Pakar Seni dan Budaya, Winahyu Dwi Anggono Putro : Gunung Gajah Layak Jadi Ikon Pemalang,Bukan Sekedar Destinasi Wisata

RABN.CO.ID, PEMALANG – Di tengah geliat pembangunan pariwisata yang kerap mengorbankan nilai-nilai lokal, suara dari kalangan budayawan Pemalang, kembali menggema. Mereka menilai Gunung Gajah di Desa Gongseng, Kecamatan Randudongkal bukan sekadar tempat wisata alam, melainkan ruang hidup budaya yang semestinya dijaga.

Pakar seni dan budaya, Winahyu Dwi Anggono Putro, menegaskan bahwa Gunung Gajah bukit batu setinggi 1.100 meter dari permukaan air laut (mdpl),memiliki kekuatan simbolik yang belum sepenuhnya dipahami oleh pengambil kebijakan.

“Gunung Gajah bukan hanya gugusan batu dan pepohonan. Ia adalah teks budaya, yang menyimpan nilai kebijaksanaan, mitos lokal, dan hubungan spiritual antara manusia dan alam,” ujar Anggono kepada awak media RABN.CO.ID, Rabu (22/10/2025).

Gunung Gajah, dengan bentuk khas menyerupai gajah, selama ini menjadi bagian dari cerita rakyat setempat tentang kekuatan dan kesetiaan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini mulai ramai dikunjungi tanpa arah pengelolaan yang jelas. Sejumlah spot foto bermunculan tanpa memperhatikan nilai konservasi maupun kesakralan lokasi.

“Yang kami khawatirkan, tempat ini berubah jadi sekadar lokasi swafoto massal. Budaya lokalnya terkikis oleh arus wisata instan,” Ucapannya.

Tantangan terbesar Dinas Pariwisata Pemalang, saat ini adalah menyeimbangkan aspek wisata dan pelestarian budaya.dan kawasan berbasis kearifan lokal.

“Saya berharap agar Gunung Gajah tidak kehilangan ruhnya. Pengembangan dilakukan dengan pendekatan budaya dan edukatif, bukan sekadar ekonomi,”ucap Anggono penuh ekspresi

Namun sejumlah pengamat menilai langkah pemerintah masih setengah hati. Banyak kegiatan wisata dilakukan tanpa kurasi budaya yang jelas, bahkan beberapa fasilitas dinilai mengganggu keaslian bentang alam.

Anggono menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat lokal harus menjadi kunci utama.

“Gunung Gajah bukan hanya milik dinas atau investor. Ia milik warga, dan warga yang paling tahu bagaimana menjaga warisan ini,” ujarnya.

Setiap kendaraan yang melintas di jalur utama Purwokerto – Pemalang, saat menembus wilayah selatan Pemalang, nyaris tak bisa mengabaikan panorama megah Gunung Gajah di kejauhan. Dari arah Belik – Randudongkal, punggung batu besar yang menyerupai seekor gajah itu tampak gagah membentang, seolah menjadi penjaga alami gerbang selatan Pemalang.

Gunung itu bukan sekadar pemandangan di tepi jalan. Bagi warga setempat, Gunung Gajah adalah simbol kebanggaan, penanda bahwa mereka memiliki warisan alam dan budaya yang khas — yang setiap harinya disaksikan ribuan mata dari kendaraan yang lalu-lalang di jalur ekonomi utama Pulau Jawa.

Gunung Gajah, dengan segala mitos dan panoramanya, kini berada di persimpangan antara komersialisasi dan pelestarian. Jika dikelola dengan benar, ia bisa menjadi ikon Pemalang yang menyatukan alam, sejarah, dan identitas budaya. Namun jika salah arah, Gunung Gajah bisa kehilangan maknanya—menjadi sekadar nama dalam brosur wisata.

Gunung yang Menjaga Akar

Dan setiap kali kendaraan melintas di jalur panjang (Tol) Jakarta–Surabaya, Gunung Gajah berdiri diam di kejauhan — megah, teduh, dan setia menatap waktu.
Ia seolah menyapa setiap mata yang sempat menoleh, mengingatkan bahwa Pemalang punya wajah yang tak tergantikan.

Bukan sekadar gugusan batu, tapi lambang keteguhan, kebijaksanaan, dan akar budaya yang tumbuh dari tanahnya sendiri.
Gunung Gajah bukan hanya milik warga Randudongkal, tapi milik semua jiwa yang pernah melewati dan terpesona oleh keheningannya.
Dalam diamnya, ia berkata pelan:

“Inilah Pemalang — tanah yang menjaga warisan, dan warisan yang menjaga tanah.”pungkas Winahyu Dwi Anggono Putro.(MF/Imron)

Editor : Sofid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *