News

Editorial : Jaring Laba – Laba Bernama Pindai SITAPAK, Tapi Kok Masih Buta?

×

Editorial : Jaring Laba – Laba Bernama Pindai SITAPAK, Tapi Kok Masih Buta?

Sebarkan artikel ini

Editorial : Jaring Laba – Laba Bernama Pindai SITAPAK, Tapi Kok Masih Buta?

RABN.CO.ID PEMALANG – Ketika sistem cegah dini kehilangan daya tangkap, yang perlu dibenahi bukan hanya teknologinya — tapi kesadaran manusianya.
Sejak diluncurkan, Pindai SITAPAK ( Sistem Informasi Tata Kelola Penanganan Konflik ),digadang-gadang sebagai jaring pengaman sosial-politik. Sebuah sistem radar intelijen yang mampu menangkap getaran kecil di akar rumput sebelum menjadi badai konflik. Tapi belakangan, publik mulai bertanya-tanya: jaring itu masih bekerja atau sudah robek?( 24/10 )

Di atas kertas, konsepnya nyaris sempurna. Pemetaan wilayah rawan, deteksi potensi konflik, hingga respon cepat antar lembaga. Tapi fakta di lapangan menunjukkan hal lain. Kasus sosial yang semestinya bisa diredam sejak awal justru dibiarkan membesar. Laporan dari bawah terlambat naik, sinyal bahaya tak terbaca, dan aparat lebih sibuk mengurus formalitas daripada refleks bertindak.

Jaring laba-laba sekuat apa pun akan percuma jika penjaganya tertidur.

Kegagalan,dan kelemahan Pindai SITAPAK bukan hanya soal sistem. Ini tentang manusia yang mengoperasikannya.

Intelijen sosial tak bisa berjalan hanya dengan dokumen, rapat, dan jargon. Ia butuh kepekaan, keberanian, dan integritas. Dua yang pertama bisa dilatih — yang terakhir harus dimiliki.

Sistem deteksi dini seperti Pindai SITAPAK seharusnya menjadi roh kewaspadaan daerah. Namun kini, yang tampak justru rutinitas administratif tanpa ruh. Seolah radar dipasang hanya untuk laporan, bukan untuk mencegah gejolak yang nyata.

Kalau begini terus, publik punya hak untuk sinis. Apa gunanya jaring laba-laba megah kalau lalatnya tetap lolos?

Apa artinya radar intelijen kalau justru gagal membaca sinyal bahaya dari arah yang sama berulang kali?

Sudah saatnya pemerintah daerah dan instansi terkait melakukan introspeksi mendalam. Pindai SITAPAK bukan proyek, melainkan instrumen kewaspadaan. Ia hanya akan tajam jika dipegang oleh orang-orang yang mau melihat, bukan sekadar duduk di balik meja.

Karena pada akhirnya, cegah dini bukanlah tentang alat yang canggih — tapi tentang niat untuk tidak menutup mata.

“Jaring yang robek bisa dijahit kembali, tapi mata yang tertutup tak akan pernah melihat.”

Jaring laba-laba itu harusnya menangkap serangga sebelum merusak daun, bukan setelah hutan terbakar.(MF)

Editor: Sofid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *