News

Swakelola Atau Swakecurangan : Parkir di Bahu Jalan, Uang Retribusi Menguap, Kepala Pasar Bantarbolang Diduga Bermain di Balik Layar

×

Swakelola Atau Swakecurangan : Parkir di Bahu Jalan, Uang Retribusi Menguap, Kepala Pasar Bantarbolang Diduga Bermain di Balik Layar

Sebarkan artikel ini

Swakelola Atau Swakecurangan : Parkir di Bahu Jalan, Uang Retribusi Menguap, Kepala Pasar Bantarbolang Diduga Bermain di Balik Layar

RABN.CO.ID, PEMALANG – Istilah swakelola kini kembali dipertanyakan.Di Pasar Bantarbolang, kata yang seharusnya bermakna kemandirian warga justru berubah menjadi kedok bagi pungutan liar di bahu jalan pasar Bantarbolang kini kembali menuai sorotan tajam.
Deretan kendaraan berjajar di bahu jalan Pasar Bantarbolang. Petugas parkir sibuk menarik uang seribu hingga dua ribu rupiah dari pengunjung yang datang. Namun, tak satu pun karcis resmi terlihat. Setiap uang berpindah tangan, hanya ucapan singkat yang terdengar, “Terima kasih.” (30/10/2025)

Di balik kesibukan itu, terselip dugaan permainan serius dalam pengelolaan retribusi parkir. Sumber di lapangan menyebut, parkir di kawasan tersebut tidak dikelola secara resmi oleh Dinas Perhubungan (Dishub), melainkan oleh oknum yang diduga memiliki kedekatan dengan Kepala Pasar Bantarbolang.

Menurut sumber yang tidak mau disebut namanya,bahwa parkir di bahu jalan pasar Bantarbolang ada enam titik lokasi,tiap titik setor pendapatan ke kepala pasar sebesar 25 ribu sampai 30 ribu per hari,dan praktek ini berjalan sudah cukup lama, publik kembali bertanya,”kemana uang retribusi tersebut menguap”?

“Setiap sore kami setor uang ke orang dalam pasar. Untuk setoran ke atasan,” katanya. Ia mengaku tidak pernah diberi karcis resmi, apalagi laporan pendapatan.

Mirisnya, petugas parkir dibebani untuk membersihkan didalam area pasar,dan tidak di beri upah.ucap sumber yang tidak mau disebut namanya.

Setoran Harian yang Tak Pernah Masuk Kas Daerah

Sejumlah pedagang dan warga mulai mempertanyakan transparansi retribusi parkir yang setiap hari dipungut. “Kalau resmi, harusnya ada tiket dan laporan ke kas daerah. Tapi di sini, tak ada bukti apa pun,” kata seorang pedagang.

Sumber internal pasar menuturkan, praktik ini sudah berjalan lama dan sulit disentuh karena ada “restu dari atas,semua orang tahu siapa yang bermain. Tapi tak ada yang berani bicara terbuka,” ujarnya pelan.

Ketika dikonfirmasi awak media,(29/10).Unit terminal dan perparkiran pada Dinas Perhubungan Pemalang hanya menjawab singkat melalui pesan WhatsApp: “untuk area pasar Bantarbolang retribusi parkir tidak ikut dishub, termasuk yang dibahu jalan ya, ikutnya Diskoperindag, dalam hal ini pasar,” Jawabnya jelas.

Ini menambah panjang daftar persoalan klasik: ketika uang rakyat menguap, pengawasan justru menghilang.

Swakelola – Swakecurangan atau Siasat Setoran?

Saat dikonfirmasi awak media,lewat WhatshApp kamis (29/10), kepala pasar, Susilo berdalih,”yang dikelola pasar, sebagaian dibelakang kios2 karena itu masuk ditanah Pemda (pasar),dan yang di bahu jalan pengelolaan parkir oleh warga sekitar.”ucap kepala pasar.

Namun, sumber di lapangan menyebut istilah “swakelola” itu hanyalah tameng untuk menutupi praktik pengumpulan setoran yang tidak pernah tercatat dalam sistem retribusi resmi.

“Kalau benar dikelola warga, harus ada perjanjian kerja dan pengawasan Dishub. Tapi ini tidak ada apa-apa. Semua serba gelap,” kata seorang pemerhati yang memantau persoalan tersebut.

Ia menegaskan, praktik semacam ini bukan sekadar pelanggaran administrasi, melainkan indikasi, pungli ,dan korupsi kecil yang menular. “Parkir itu pintu kecil, tapi dari situlah kebocoran besar bermula,” ujarnya.

Kasus parkir di bahu jalan Pasar Bantarbolang menyoroti wajah buram pengelolaan retribusi daerah. Pemerintah daerah jangan menutup mata terhadap kebocoran kecil yang perlahan menggerogoti kepercayaan publik.

Dan dibahu jalan pasar Bantarbolang, uang parkir yang menguap itu mungkin hanyalah simbol — bahwa di balik setiap pungutan tanpa karcis, ada sistem gelap yang sengaja dibiarkan hidup.Pungkasnya.(MF)

Editor : Sofid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *