Retribusi di Tarik, Wajah Wisata Tetap Kusam: Gapura Wisata Pantai Widuri Pemalang Bak Museum Kuno Jadi Simbol Gagalnya Pengelolaan
RABN.CO.ID, PEMALANG – Kebijakan retribusi di Wisata Sirkuit Pantai Widuri kini berubah menjadi bumerang. Alih-alih menunjukkan wajah baru kawasan wisata, yang tampak justru gapura tua dengan cat mengelupas, besi berkarat, dan ornamen lapuk—“lebih cocok jadi pajangan museum daripada pintu gerbang wisata,” keluh salah satu pengunjung.(23/11/2025)
Pemerintah Kabupaten Pemalang pada Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga,Perda No. 7 Tahun 2023.
√ Hari biasa ( Senin- Jum’at ) , Rp.4.500,-
√ Hari Libur Rp.6000,-
√ Hari Raya Idul Fitri Rp.12,500,-
Publik mempertanyakan logika menarik uang retribusi tanpa membenahi fasilitas paling dasar.
“Kalau gerbangnya saja dibiarkan seperti bangunan tua zaman kolonial, apa jaminannya pengelolaan dana masuk lebih baik di bagian lain?” ujar Helmi, pemerhati kebijakan publik.
Di area sekitar pantai, para pedagang kecil merasakan dampaknya paling cepat. Pengunjung berkurang, omzet turun dratis “Retribusi dulu-duluan, perbaikan belakangan. Ini bukan revitalisasi, ini cuma pungut masuk,” kata seorang pedagang es kelapa muda yang 12 tahun berjualan di Widuri.
Di media sosial, wajah kusam gapura Wisata Pantai Widuri menjadi bahan sindiran. Sejumlah warganet menyamakan pintu gerbang itu dengan “artefak setengah mistis yang luput dari restorasi”.
Publik kini menuntut transparansi: ke mana sebenarnya dana yang dikumpulkan dari retribusi itu mengalir?
Sementara revitalisasi yang sempat dijanjikan pemerintah daerah justru kian kabur—lebih sering tampil di poster dan baliho ketimbang di lapangan.
Destinasi Wisata Pantai Widuri yang diharapkan menjadi ikon justru terjebak dalam masalah klasik: pungutannya modern, pengelolaannya jadul.(Red – Tim liputan)
Editor: Sofid











