Warisan Kelam Proyek Stadion Mochtar Pemalang: Fasad Patung Gaib,Terlihat oleh Dukun, Hilang Bagi Publik
RABN.CO.ID, PEMALANG – Rabu 10 Desember 2025 — Stadion Mochtar Pemalang kembali menjadi sorotan tajam. Bukan karena prestasi olahraga, melainkan karena sebuah tanda tanya besar yang berdiri persis di depan mata: fasad megah yang dijanjikan ternyata hanya menyisakan tabung beton bisu—tanpa ornamen, tanpa estetika, tanpa penjelasan.
Banyak warga menyebutnya warisan lama yang terburu – buru.
Sorotan tajam publik, di tengah keberhasilan revitalisasi stadion pada tahun 2021, ada satu jejak kelam proyek masa lalu yang tetap membekas:
Hilangnya elemen artistik yang seharusnya menjadi “mahkota” pintu masuk stadion. Publik kini bertanya-tanya, mengapa struktur itu tak pernah diselesaikan hingga tuntas?
Fasad Bernilai Miliar, Wujud Ornamen Tak Pernah Hadir
Dalam dokumen perencanaan, bangunan fasad depan dirancang untuk menjadi ikon Pemalang—lengkap dengan patung ornamen di bagian puncak.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya, hingga hari ini, yang berdiri hanya rangka tabung beton berlapis granit, kaku dan tanpa fungsi estetik apa pun.
Struktur itu terlihat seperti proyek yang: ditinggalkan,dan
diputus anggarannya, atau diselesaikan separuh hati.
Tak pernah ada penjelasan klarifikasi publik yang memadai. Tak ada wujud ornamen yang dijanjikan.Dan tak ada tanda bahwa desain awal benar-benar diwujudkan.
Kesaksian Para Pedagang : “Kayaknya dilipat,dan masuk kantong Doraemon Mas…”
Seorang pedagang yang telah berjualan hampir 25 tahun di area ruko stadion jauh sebelum era pembangunan memberi komentar satir namun benar.
“Dulu mau dipasang patung ornamen.Tapi sampai sekarang nggak ada wujudnya.
Ia menambahkan kalimat yang membuat publik tersentak kaget :
“Sebenarnya Fasad patung itu ada, mungkin cuma ahli metafisik yang bisa lihat.”
Kelakar itu mencerminkan satu hal: ada sesuatu yang tidak pernah selesai dan tidak pernah dijelaskan.
Revitalisasi Selesai, Tapi Estetika Masih Jadi Luka Lama
Revitalisasi Stadion Mochtar rampung pada tahun 2021 dengan dana puluhan miliar rupiah. Banyak hal telah dibenahi:
Rumput standar FIFA,
Tribun kapasitas 4.000 penonton,
Stadion menjadi markas PSIP Pemalang,
Bahkan dipakai untuk pelantikan PPPK di akhir tahun 2025.
Namun, estetika fasad yang seharusnya memberi wajah baru stadion justru menjadi noda yang masih mengambang di publik: mengapa bagian itu tak pernah tuntas?
Proyek warisan masa lalu,kasus fasad stadion ini dianggap publik sebagai gambaran klasik proyek-proyek era sebelumnya:
Perencanaan megah, realisasi tak lengkap.
Anggaran muncul,wujud fisik tak setara.
Elemen estetika hilang entah ke mana.
Transparansi proyek melemah, publik dibiarkan menebak-nebak.
Bangunan publik yang seharusnya menjadi simbol akuntabilitas, bukan monumen ambigu yang memunculkan spekulasi hingga ke ranah metafisik.
Saatnya Pemerintah Mengakhiri “Pekerjaan yang belum tuntas”
Stadion Mochtar hari ini memang aktif dan fungsional. Tetapi ketidaktuntasan fasadnya adalah pengingat keras bahwa akuntabilitas proyek tidak selesai saat pita peresmian dipotong.
Pemkab Pemalang perlu,menelusuri kembali dokumen teknis fasad,
Dan menjelaskan kepada publik apa yang sebenarnya direncanakan.
Mengungkap mengapa ornamen tidak pernah terwujud,
Menyusun tindak lanjut agar bagian itu diselesaikan secara profesional.
Warga Pemalang berhak mendapatkan jawaban. Mereka berhak atas kualitas pembangunan yang utuh—bukan fasad yang setengah jadi, apalagi yang “hanya bisa dilihat oleh ahli supranatural,” seperti kelakar pedagang.
“Barang kali Fasad patung stadion Mochtar akan lebih pas bila memakai patung pejabat terdahulu – biar publik tahu siapa yang menitipkan estetika yang tak pernah selesai,”
Bila stadion ini bisa bicara, barang kali ia akan berbisik : “Beginilah warisan yang di tinggalkan tanpa niat untuk kembali melihatnya”..(Red/Tim liputan)
Editor: Sofid











