News

Puncak Hari Desa Nasional 2026 di Boyolali, Kemendes PDT Dorong Desa Jadi Subjek Utama Pembangunan Nasional

×

Puncak Hari Desa Nasional 2026 di Boyolali, Kemendes PDT Dorong Desa Jadi Subjek Utama Pembangunan Nasional

Sebarkan artikel ini

Puncak Hari Desa Nasional 2026 di Boyolali, Kemendes PDT Dorong Desa Jadi Subjek Utama Pembangunan Nasional

RABN.CO.ID, BOYOLALI – Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menggelar Puncak Hari Desa Nasional 2026 pada 15 Januari 2026 di Boyolali, Jawa Tengah. Kegiatan ini menjadi momentum strategis penguatan peran desa sebagai subjek utama pembangunan nasional, sejalan dengan Asta Cita keenam Presiden Prabowo Subianto, yakni membangun Indonesia dari desa dan dari bawah.

Acara nasional tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Menteri Hukum Dr. Supratman Andi Agtas, S.H., M.H., Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, serta Menteri Perdagangan Dr. Budi Santoso, M.Si. Turut hadir pula sejumlah wakil menteri Kabinet Merah Putih, Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, Kepala BNN, Gubernur Lemhannas, dan para kepala daerah.

Dalam pidatonya, Menteri Desa Yandri Susanto menegaskan bahwa desa kini ditempatkan sebagai pelaku utama pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan. Ia menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 75.266 desa, yang mustahil dibangun hanya oleh satu kementerian atau satu sektor semata.

“Pesan Bapak Presiden Prabowo jelas, kita ini bukan superman, tapi super tim. Pembangunan desa harus dilakukan secara gotong royong, lintas sektor, dan lintas kementerian,” ujar Yandri dalam pidatonya.(16/1/2026)

Yandri juga menekankan pentingnya persatuan, kekompakan, dan energi positif sebagai modal sosial pembangunan desa. Menurutnya, tanpa persatuan dan keguyuban, potensi besar desa tidak akan mampu mendorong kemajuan nasional.

Kemendes PDT, lanjut Yandri, telah menyiapkan 12 Aksi Bangun Desa sebagai strategi konkret untuk mewujudkan pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Program tersebut meliputi penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Koperasi Desa Merah Putih, serta pengembangan desa tematik berbasis potensi lokal.

Beberapa contoh desa tematik yang telah dikembangkan antara lain Desa Lele, Desa Nila, Desa Melon, Desa Padi, dan Desa Jagung, yang seluruh siklus ekonominya berbasis desa. Ujung dari program tersebut adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat, termasuk dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Selain itu, Kemendes PDT juga menargetkan penguatan desa dalam rantai ekonomi global melalui program Desa Ekspor. Pemerintah menargetkan 5.000 desa ekspor, dengan komoditas unggulan seperti kopi, kemiri, ikan, hingga produk kerajinan seperti kendang jimbe.

“Siklus ekonomi harus bergerak di desa. Ketika desa bangkit, maka Indonesia akan kuat,” tegas Yandri.

Ia optimistis, jika seluruh aksi pembangunan desa berjalan dengan baik dan konsisten, maka cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan sekadar slogan, melainkan warisan nyata untuk generasi mendatang.

Puncak Hari Desa Nasional 2026 di Boyolali menjadi penegasan bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kekuatan desa. Pemerintah pusat menaruh harapan besar agar desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, kedaulatan pangan, dan ketahanan sosial nasional.(Red-Tim liputan)

Editor:Sofid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *