News

Citywalk Tenggelam, Banjir Kota Pemalang Jadi Alarm Gagalnya Tata Drainase

×

Citywalk Tenggelam, Banjir Kota Pemalang Jadi Alarm Gagalnya Tata Drainase

Sebarkan artikel ini

Citywalk Tenggelam, Banjir Kota Pemalang Jadi Alarm Gagalnya Tata Drainase

RABN.CO.ID, PEMALANG – 1 Pebruari 2026 — Pembangunan citywalk yang digadang-gadang sebagai simbol wajah baru Kota Pemalang kembali dipertanyakan.

Hujan deras selama kurang lebih lima jam pada Sabtu malam, 31 Januari 2026, justru menyingkap persoalan lama yang tak kunjung selesai: banjir perkotaan akibat buruknya sistem drainase.

Curah hujan tinggi sejak sore hingga malam hari membuat hampir seluruh wilayah Kota Pemalang tergenang air.

Ketinggian banjir bervariasi, mulai dari mata kaki hingga lutut orang dewasa, bahkan mencapai pinggang orang dewasa di kawasan Salafiyah, Kelurahan Kebondalem.

Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Mulyoharjo, Kebondalem, Pelutan, hingga kawasan Citywalk Pemalang dan deretan ruko di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman—ruas utama yang seharusnya menjadi etalase kota.

Ruang Publik Modern, Masalah Klasik

Ironisnya, kawasan citywalk yang baru dibangun sebagai ruang publik modern dan pusat aktivitas warga justru ikut lumpuh.

Genangan air menutup akses pejalan kaki, merendam jalan, dan masuk ke bangunan-bangunan usaha di sekitarnya.

Kondisi ini memperkuat kritik bahwa pembangunan ruang publik selama ini lebih berorientasi estetika daripada fungsi ekologis.

Citywalk gagal menjadi solusi, bahkan tak mampu meminimalkan dampak banjir yang sudah berulang terjadi setiap musim hujan.

“Setiap hujan deras, pasti banjir. Bedanya sekarang citywalk ikut tenggelam,” keluh salah satu warga Kebondalem.

Air Masuk Rumah Warga Sejak Pukul 21.00 WIB
Air dilaporkan mulai masuk ke rumah-rumah warga sekitar pukul 21.00 WIB, memaksa warga menghentikan aktivitas dan menyelamatkan barang-barang.

Video dan foto banjir dengan cepat beredar di media sosial, memperlihatkan kondisi jalan berubah menjadi kubangan air.

Banyak pengendara motor nekat menerobos banjir, berujung kendaraan mogok dan lalu lintas tersendat.Aktivitas ekonomi dan mobilitas warga pun praktis terhenti.

Luapan Sungai Srengseng dan Drainase Tak Berfungsi Optimal

Banjir disebut dipicu oleh luapan Sungai Srengseng yang tidak mampu menampung debit air hujan, ditambah drainase perkotaan yang tidak berfungsi optimal.

Situasi ini memunculkan pertanyaan serius tentang perencanaan tata kota dan pengelolaan air hujan di wilayah perkotaan Pemalang.

Hingga Minggu dini hari, belum terlihat langkah penanganan darurat yang signifikan di sejumlah titik terdampak.

Tidak ada pernyataan resmi terkait evaluasi drainase maupun mitigasi banjir jangka panjang.

Publik Desak Evaluasi Total Proyek Perkotaan

Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah.

Warga menilai banjir bukan lagi bencana alam semata, melainkan indikasi kegagalan kebijakan tata ruang dan infrastruktur.
Tanpa evaluasi menyeluruh—mulai dari kapasitas sungai, drainase, hingga orientasi pembangunan—banjir dikhawatirkan akan terus menjadi ritual tahunan, tak peduli seberapa megah wajah kota dibangun.(Red-Tim Liputan)

Editor:Sofid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *