News

Editorial: Dua Wajah Pengabdian,Diduga Rp980 Juta untuk Panggung, Gotong Royong untuk Nyawa

×

Editorial: Dua Wajah Pengabdian,Diduga Rp980 Juta untuk Panggung, Gotong Royong untuk Nyawa

Sebarkan artikel ini

Editorial: Dua Wajah Pengabdian,Diduga Rp980 Juta untuk Panggung, Gotong Royong untuk Nyawa

RABN.CO.ID, PEMALANG – Hari Jadi Kabupaten Pemalang ke-451 rupanya dirayakan dengan dua cara yang sangat berbeda. Yang satu berpijar oleh sorot lampu panggung, yang lain tenggelam dalam lumpur, air mata, dan sunyi lokasi bencana.(1/2/2026)

Kesbangpol Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pemalang menggelar konser musik menghadirkan Artis Ibu Kota

Semula hiburan perayaan, lalu bertransformasi menjadi “konser amal”.

Namun publik dibuat terdiam bukan oleh alunan musik, melainkan oleh kabar anggaran yang disebut-sebut diduga mencapai Rp980 juta. Angka yang terasa megah—bahkan terlalu megah—untuk sebuah daerah yang sedang berduka.

Sementara panggung berdiri kokoh dengan tata suara profesional, di Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul, tanah longsor merenggut nyawa.

Selama lebih dari satu minggu, Camat Watukumpul turun langsung ke lokasi bencana, menyatu dengan warga dan relawan, berjibaku dengan keterbatasan alat, logistik, dan cuaca. Hingga akhirnya dua korban meninggal dunia berhasil ditemukan—tanpa dana APBD.

Di sinilah ironi itu menampar logika publik. Untuk hiburan, anggaran tersedia ratusan juta. Untuk kemanusiaan, negara justru absen, digantikan oleh gotong royong dan nurani.

Label “konser amal” pun layak dipertanyakan. Apakah kata amal cukup untuk memutihkan angka Rp980 juta? Ataukah ini sekadar kosmetik moral agar pesta tetap bisa berjalan tanpa rasa bersalah?

Hari jadi daerah sejatinya bukan lomba kemewahan acara, melainkan cermin kepekaan penguasa. Ketika aparat di lapangan mencari korban dengan tangan kosong dan tekad penuh, sementara anggaran besar habis di atas panggung, publik berhak curiga: ada yang keliru dalam cara kita merayakan.

Hari jadi Pemalang ke-451 seharusnya dikenang sebagai usia kedewasaan. Namun kedewasaan bukan diukur dari gemerlap konser, melainkan dari keberanian memprioritaskan nyawa manusia di atas hiburan sesaat.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang bernyanyi di atas panggung—tetapi siapa yang hadir saat rakyatnya terkubur bencana.(Red/MF)

Editor:Sofid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *