Darurat yang Dipelihara: Pengganti TPA Pesalakan Dinilai Hanya Akal-akalan
RABN.CO.ID, PEMALANG – Kegagalan pemerintah dalam menyiapkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) pengganti Pesalakan kini berada di titik genting. Alih-alih menghadirkan solusi strategis dan berkelanjutan, penanganan sampah yang dilakukan justru dinilai sekadar memelihara status darurat tanpa kepastian arah penyelesaian.
Hal tersebut ditegaskan Andi Rustono, aktivis lingkungan hidup sekaligus pegiat seni, yang menilai kondisi saat ini sebagai bukti lemahnya perencanaan dan ketegasan pemerintah dalam mengelola persoalan sampah.(2/2/2026)
“Sampai hari ini pemenuhan pengganti TPA Pesalakan itu belum ada. Yang terjadi hanya solusi darurat dan sementara. Ini jelas bukan langkah strategis, tapi sekadar menunda masalah,” tegas Andi.
Menurutnya, kondisi tersebut sudah memasuki fase injury time. Dalam waktu kurang dari satu minggu ke depan, dampaknya dipastikan akan langsung terasa pada sistem pengangkutan sampah.
“Dalam satu minggu ke depan, sistem pengambilan sampah pasti terganggu. Mau tidak mau, sampah akan menumpuk, baik di lapangan maupun di TPS. Ini konsekuensi yang sebenarnya sudah bisa diprediksi,” katanya.
Andi menilai, pemerintah seolah membiarkan situasi krisis terjadi tanpa mitigasi yang memadai. Ia menyebut penanganan yang dilakukan saat ini tidak hanya tidak strategis, tetapi juga berpotensi menciptakan masalah lingkungan baru.
“Lokasi pembuangan darurat itu tidak memiliki membran untuk menahan air limbah agar tidak langsung meresap ke tanah. Tidak ada pula sistem penampungan limbah cair. Ini bukan sekadar lalai, tapi membahayakan lingkungan,” ujarnya.
Ia menilai, dalih kedaruratan telah dijadikan pembenaran untuk mengabaikan standar dasar pengelolaan sampah.
“Ini jelas-jelas memanfaatkan situasi darurat. Pertanyaannya, sampai kapan mau darurat terus?” sindirnya.
Andi menegaskan, tanpa ketegasan dan keputusan politik yang jelas, persoalan sampah hanya akan terus berulang dari tahun ke tahun. Ia mengingatkan agar pemerintah tidak mengulangi kegagalan yang sama seperti yang terjadi sebelumnya.
“Harus ada ketegasan pemerintah untuk menyelesaikan persoalan ini secara menyeluruh. Kalau tidak, kejadian seperti satu tahun lalu akan terulang lagi. Sampah bukan sekadar masalah estetika, tapi ancaman serius bagi kesehatan dan lingkungan,” pungkasnya.
Sampah tak pernah benar-benar menjadi masalah,karena selalu ada tempat baru untuk menampung pembiaran.Yang darurat bukan lagi tumpukan nya, melainkan nurani yang ikut dibuang bersama bau busuk kebijakan.
Tanpa langkah konkret dan perencanaan jangka panjang, kebijakan darurat dikhawatirkan hanya menjadi warisan masalah bagi masyarakat dan generasi berikutnya.(Red-Tim liputan)
Editor:Sofid











