Jejak Panjang Jalan Majakerta–Wisnu–Semingkir: Dari Rintisan Alam hingga Runtuhnya Jembatan Mendelem
RABN.CO.ID, PEMALANG – 8 Februari 2026. — Jauh sebelum aspal membelah perbukitan dan jembatan baja membentang di atas Sungai Mendelem, jalur Majakerta–Wisnu–Semingkir hanyalah lintasan alam yang dibuka dengan semangat gotong royong dan keberanian menantang medan. Sejarah mencatat, jalan ini bukan lahir dari meja perencana, melainkan dari langkah-langkah awal para pecinta alam yang menyusuri hutan dan kontur terjal demi membuka akses antarwilayah.
Survei awal jalur tersebut dilakukan oleh Perkumpulan Andang Taruna Pencinta Alam (PATPA). Di antara anggotanya, dua putra Bupati Pemalang saat itu, Letkol TNI (Purn) Yusuf Akhmadi, turut bergabung. Keterlibatan mereka menjadi simbol kuat pertemuan antara semangat komunitas dan perhatian pemerintah terhadap keterisolasian wilayah selatan Pemalang.
Seiring waktu, jalur rintisan itu berkembang. Jalan mulai dibangun secara bertahap hingga akhirnya diaspal, menjelma menjadi akses vital bagi warga Majakerta, Wisnu, hingga Semingkir. Jalan ini bukan sekadar penghubung geografis, melainkan nadi kehidupan—mengalirkan hasil bumi, mengantar anak-anak ke sekolah, dan memperpendek jarak antara desa dan pusat pelayanan publik.
Pada masa kepemimpinan Letkol TNI (Purn) Yusuf Akhmadi, tonggak penting pembangunan infrastruktur ditandai dengan berdirinya Jembatan Mendelem. Jembatan ini dibangun menggunakan material impor dari Australia, sebuah keputusan yang mencerminkan kondisi Indonesia saat itu yang belum mampu memproduksi material jembatan dengan spesifikasi teknis serupa.
Kehadiran jembatan tersebut menjadi kebanggaan sekaligus simbol kemajuan bagi masyarakat sekitar.
Waktu terus bergerak. Kepemimpinan daerah berganti dari Slamet Haryanto, BA yang memimpin selama satu dekade, dilanjutkan Drs. Suwartono, Drs. H. Moenir, M. Marchroes, S.H, Junaedi, S.H, Mukti Agung Wibowo, Mansur, hingga kini Anom Widiyantoro. Setiap periode meninggalkan jejaknya sendiri, namun jalan dan jembatan itu tetap setia menjalankan fungsinya, menua bersama perubahan zaman.
Sayangnya, usia dan alam memiliki kehendaknya sendiri.
Dalam beberapa tahun terakhir, bencana dan musibah silih berganti melanda wilayah ini. Curah hujan tinggi, pergeseran tanah, dan faktor alam lainnya perlahan menggerogoti kekuatan infrastruktur lama.
Hingga akhirnya, Jembatan Mendelem—yang telah puluhan tahun menjadi saksi sejarah—ambruk dan terputus.
Runtuhnya jembatan bukan hanya peristiwa teknis, melainkan juga momen reflektif. Ia menandai berakhirnya satu bab sejarah panjang, sekaligus membuka pertanyaan besar tentang perawatan infrastruktur, kesinambungan pembangunan, dan kesiapan menghadapi tantangan alam.
Jalan Majakerta–Wisnu–Semingkir dan Jembatan Mendelem telah mengajarkan bahwa pembangunan bukan sekadar membangun, tetapi juga merawat. Karena di balik beton dan baja, tersimpan kisah manusia, dedikasi lintas generasi, dan harapan yang terus ingin disambungkan.
(Red/S Yudha)
Editor: Sofid











