Ketika Loyalitas Disalahartikan: Budi Rahardjo Soroti Mentalitas “Yes Man” Tumbuh Subur di Pemerintahan Saat Ini
RABN.CO.ID, PEMALANG – 15 Februari 2026 — Pemahaman tentang loyalitas dalam birokrasi kerap disalahartikan sebagai kepatuhan total kepada pimpinan. Padahal, loyalitas sejati seharusnya berlandaskan pada tugas, fungsi, serta aturan hukum yang melekat pada jabatan.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Budhi Rahardjo dalam sebuah tulisan opini yang menyoroti praktik budaya kerja birokrasi. Ia menyebut bahwa loyalitas sering dipersempit menjadi sekadar mengikuti perintah atasan tanpa kritik. Bahkan, ia menilai pemahaman seperti ini bisa memicu kebijakan bermasalah dan menjauhkan tata kelola dari prinsip hukum.
Ia menulis bahwa dalam praktiknya, loyalitas kerap dimaknai sebagai kepatuhan total kepada pimpinan, sementara sistem pemerintahan menuntut kesetiaan pada aturan dan tanggung jawab jabatan.
Dalam tulisannya, ia menegaskan:
“Loyalitas sering direduksi menjadi kepatuhan total kepada pimpinan.”
Menurutnya, loyalitas yang sehat justru mendorong bawahan memberikan masukan objektif berbasis data serta berani mengingatkan jika kebijakan berpotensi melanggar aturan. Sikap tersebut bukan pembangkangan, melainkan tanggung jawab profesional sebagai abdi negara.
Ia juga mengingatkan bahaya budaya “asal pimpinan senang” yang melahirkan mentalitas yes man. Kondisi ini dapat merugikan organisasi karena keputusan diambil tanpa pertimbangan kritis dan berpotensi menimbulkan konsekuensi hukum bagi semua pihak.
Sebaliknya, loyalitas berkarakter dinilai mampu melindungi pimpinan dari kesalahan fatal serta menjaga integritas lembaga. Loyalitas semacam itu menempatkan hukum, etika publik, dan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama.
Tulisan tersebut menutup dengan penegasan bahwa pejabat publik seharusnya loyal pada mandat jabatan, bukan pada kepentingan personal atau politik. Tanpa prinsip tersebut, birokrasi berisiko menciptakan persoalan yang lebih besar di masa depan.
(Red/Fdl)
Editor:Sofid











