Tulisan Asing Tak Jauh dari Exit Tol Pemalang : Ketika Nasionalisme Diuji oleh Sebuah Dinding
RABN.CO.ID, PEMALANG – Nasionalisme di negeri ini sering terdengar gagah. Dipidatokan dengan suara lantang, dirayakan dengan seremoni meriah, dan diulang dalam slogan tanpa jeda.
Namun di Kedung Banjar Jalan Petarukan Sawah Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang, nasionalisme justru diuji oleh sesuatu yang jauh lebih sederhana: sebuah tulisan asing yang berdiri tenang di dinding gedung, dilihat ribuan mata setiap hari — tanpa penjelasan, tanpa respons, tanpa rasa terganggu dari pihak yang berwenang.
Pertanyaannya sederhana: siapa yang membiarkan ruang publik berbicara dalam bahasa yang bahkan masyarakatnya sendiri tidak memahami?
Warga yang melintas setiap hari bukan sedang mencari sensasi. Mereka hanya ingin tahu makna dari tulisan tersebut. Apakah itu simbol kerja sama internasional? Identitas bisnis? Atau sekadar hiasan tanpa pertimbangan makna sosial? Ketika pertanyaan publik menggantung terlalu lama, yang muncul bukan lagi rasa ingin tahu, melainkan kesan abai.

Ironinya, di saat pemerintah gencar menyerukan cinta tanah air dan kebanggaan terhadap identitas nasional, ruang publik justru seolah dibiarkan kehilangan arah simboliknya.
Nasionalisme terdengar keras di ruang konferensi, tetapi melemah di jalanan kota sendiri.
Tidak ada yang menolak budaya asing. Indonesia bukan negara tertutup. Namun keterbukaan tanpa kendali adalah kelengahan. Ruang publik bukan kanvas bebas tanpa tanggung jawab.
Setiap tulisan yang terpampang membawa pesan — disengaja atau tidak.
Dan ketika pesan itu tidak dipahami publiknya sendiri, maka yang dipertanyakan bukan hanya tulisan tersebut, tetapi kewaspadaan pemerintah daerah.
Apakah dinas terkait tidak melihat? Atau melihat tetapi memilih diam?
Diamnya otoritas sering kali lebih bising daripada kritik masyarakat. Sebab diam memberi ruang bagi tafsir liar, spekulasi, bahkan ketidakpercayaan.
Padahal yang dibutuhkan publik hanya satu: penjelasan yang jujur dan sikap yang tegas.
Jika tulisan itu legal, sampaikan alasannya. Jika bagian dari promosi atau kerja sama resmi, buka informasinya. Namun jika keberadaannya luput dari pengawasan, maka inilah saatnya pemerintah menunjukkan keberanian untuk mengevaluasi.
Nasionalisme sejati tidak selalu diuji dalam konflik besar atau ancaman luar negeri. Ia justru diuji dalam hal-hal kecil yang sering dianggap remeh — papan nama, simbol kota, hingga tulisan di dinding yang setiap hari membentuk wajah ruang publik.
Pemalang hari ini menghadapi pertanyaan sederhana yang memiliki makna besar: apakah kita benar-benar menjaga identitas ruang kita sendiri, atau hanya sibuk membicarakannya?
Sebab kota bukan hanya kumpulan bangunan. Kota adalah pesan tentang siapa kita. Dan ketika pesan itu mulai asing bagi warganya sendiri, mungkin yang perlu diperiksa bukan hanya tulisan di dinding — tetapi kepekaan pemerintah yang perlahan memudar.
Publik kini menunggu respons. Bukan klarifikasi yang normatif, tetapi sikap yang menunjukkan bahwa negara hadir, bahkan untuk hal yang tampak kecil. Karena nasionalisme tidak runtuh sekaligus; ia memudar pelan-pelan, dimulai dari pembiaran yang dianggap sepele.
Dan mungkin, tulisan asing itu bukan masalah terbesar.
Masalah sesungguhnya adalah ketika semua orang melihat — tetapi tak ada yang merasa perlu bertindak.Pungkasnya.
(Red/Frj)
Editor:Sofid











