News

Hari Guru Nasional Membara: Tuntutan Guru Honorer Meledak, Bupati Acuh Picu Demo Berjilid dan Berepisode

×

Hari Guru Nasional Membara: Tuntutan Guru Honorer Meledak, Bupati Acuh Picu Demo Berjilid dan Berepisode

Sebarkan artikel ini

Hari Guru Nasional Membara: Tuntutan Guru Honorer Meledak, Bupati Acuh Picu Demo Berjilid dan Berepisode

RABN.CO.ID, PEMALANG – Peringatan Hari Guru Nasional (25/25),yang seharusnya menjadi ruang penghormatan justru berubah menjadi panggung kemarahan. Ratusan guru Honorer dan Non Data Pokok pendidikan (Dapodik) memadati halaman Pendopo Kabupaten Pemalang sejak pagi, menuntut kejelasan hak yang tak kunjung dipenuhi. Di tengah sorotan publik, sikap Bupati yang dinilai acuh dan tak hadir menemui pendemo menjadi pemantik aksi lanjutan. Demo yang awalnya dijadwalkan sehari, kini menjelma menjadi aksi berjilid dan berepisode yang terus bergulir.(26/11/2025)

Aroma ketidakpuasan sudah terasa sejak massa berkumpul membawa poster bertuliskan “ PMII Bersama Guru Honorer – Guru di Gugu dan Ditiru – Guru Sedang Tidak Baik – Baik Saja” kami menagih Janji Negara, Bupati diam.

Kordinator aksi,Ilham,guru honorer yang sudah mengabdi lebih dari 5 tahun,mengajar di salah satu SMP di Kecamatan Moga menyampaikan “intinya kami guru honorer hanya ingin dimasukkan dalam Dapodik”. tegasnya

“Kami sudah dijanjikan beberapa kali dan ini kami para guru honorer demo yang ke sekian kalinya.” Tambah ilham.

Aksi demo para Guru Honorer dan Non dapodik , hasilkan kesepakatan.menghentikan GTT yang diubah menjadi PTT , dilingkungan sekolah negeri,dan melaksanakan desk GTT semua guru honorer atau GTT, dan atau hingga batas akhir 1 Desember 2025.
Melaksanakan penginputan Dapodik bagi semuanya guru honorer atau GTT pada lingkungan sekolah negeri Pemkab Pemalang, hingga batas waktu 14 Desember 2025.

Kepala dinas pendidikan kabupaten Pemalang,Ismun yang ada di tengah – tengah demo belum bisa memberikan pernyataan.

Bila tanggal (14/1225), dapodik tidak menginput, (15/12) para guru Honorer akan lakukan aksi demo Jilid II.

Menurut sumber ,dampak dari aksi demo guru honorer, isu liar menyebar luas akan adanya :
1. Audensi ke Kejaksaan Negeri Pemalang,bahas soal kredit macet.
2. Rencana Aksi Demo di gedung DPRD Pemalang terkait hutang 200 miliar , dugaan potensi korupsi pengadaan ALKES.
3. Aksi demo PKH ,BPNT yang kasusnya mangkrak di Inspektorat selama 2 tahun lebih.

Poster Yang Bertuliskan ” Guru Sedang Tidak Baik- Baik Jaja , Jangan Heran Jika Pemalang ikut Tak Baik-Baik Saja,”

Kekecewaan para guru honorer menjelma kemarahan. Di tengah teriknya siang, koordinator aksi mengumumkan Demo Jilid II. Kalau Bupati tak mau datang ke rakyatnya, rakyat yang akan terus datang ke kantornya,” teriaknya.

Pengamat kebijakan publik menilai aksi berjilid ini merupakan akumulasi masalah bertahun-tahun. “Guru Honorer hanya menuntut kepastian. Saat pemda lambat merespons, kepercayaan publik runtuh,” ujar seorang analis.

Di sisi lain, masyarakat yang melintas menyaksikan ironi yang tak terhindarkan: Hari Guru yang identik dengan penghormatan berubah menjadi simbol kemarahan para pendidik yang merasa diabaikan oleh pemimpinnya sendiri.

Aksi jilid berikutnya dijadwalkan berlangsung hingga pejabat terkait bersedia membuka dialog terbuka dan memaparkan penyelesaian yang konkret. Selama itu belum terjadi, gelombang protes diperkirakan tak akan surut.

Dan di tengah hiruk pikuk Hari Guru Nasional tahun ini, satu ironi menetap: para pendidik yang seharusnya dirayakan, justru harus turun ke jalan untuk memperjuangkan hak yang sejatinya sudah dijanjikan.(Red-MF)

Editor: Sofid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *