News

Ini Bukan Kampanye: Aspal Retak, Jembatan Terputus Tak Menunggu Paripurna Doni Akbar Turun, Material Jembatan Darurat Datang

×

Ini Bukan Kampanye: Aspal Retak, Jembatan Terputus Tak Menunggu Paripurna Doni Akbar Turun, Material Jembatan Darurat Datang

Sebarkan artikel ini

Ini Bukan Kampanye: Aspal Retak, Jembatan Terputus Tak Menunggu Paripurna Doni Akbar Turun, Material Jembatan Darurat Datang

RABN.CO.ID, SEMARANG – 18 Februari 2026 — Kerusakan jalan dan terputusnya jembatan penghubung Majakerta–Wisnu Kecamatan Watukumpul Kabupaten Pemalang Jawa Tengah,tak bisa menunggu jadwal paripurna. Saat akses vital warga terancam lumpuh, bantuan material jembatan darurat justru tiba melalui aksi lapangan yang difasilitasi oleh Doni Akbar, Anggota DPR-RI Komisi VI dapil X Jawa Tengah.

Truk bermuatan batu dan bahan konstruksi terlihat memasuki lokasi terdampak di Kecamatan Watukumpul (17/2). Kedatangan material tersebut menjadi angin segar bagi warga yang sejak beberapa hari terakhir bergotong royong membangun akses sementara. Jalur Majakerta–Wisnu merupakan urat nadi aktivitas masyarakat, digunakan pelajar menuju sekolah hingga warga yang menggantungkan penghasilan dari mobilitas harian.

Ketika aspal retak dan jembatan terputus, bukan hanya infrastruktur yang terganggu, tetapi juga roda ekonomi serta layanan dasar. Distribusi material dilakukan langsung di titik pembangunan jembatan darurat. Batu kali dan bahan penguat struktur diturunkan untuk mempercepat pengerjaan. Bagi warga, bantuan itu bukan sekadar material, melainkan harapan agar akses segera pulih.

“Yang penting bisa lewat, bisa kerja, bisa sekolah,” ujar salah satu warga di lokasi.

Di tengah kerja bakti yang terus berlangsung, kehadiran perwakilan publik di lapangan menjadi sorotan. Doni Akbar turun langsung memfasilitasi kebutuhan material mendesak. Langkah tersebut dinilai sebagai respons cepat terhadap persoalan riil masyarakat, ketika prosedur administratif kerap membutuhkan waktu. Dalam situasi darurat, aksi konkret menjadi jawaban atas kebutuhan yang tak dapat ditunda.

Peristiwa ini sekaligus menjadi refleksi penanganan infrastruktur di wilayah rawan kerusakan. Tidak sedikit persoalan jalan dan jembatan berujung pembahasan panjang di atas kertas, sementara di lapangan warga lebih dulu bertindak dengan peralatan seadanya. Gotong royong kembali menjadi kekuatan utama, menegaskan solidaritas sosial sebagai fondasi di tengah keterbatasan.

Pengerjaan jembatan darurat hingga kini masih berlangsung. Warga bahu-membahu menyusun batu, memperkuat pondasi, dan memastikan struktur cukup aman dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat secara terbatas. Mereka berharap, setelah akses sementara berfungsi, pemerintah daerah dapat segera merencanakan pembangunan permanen yang lebih kokoh dan berkelanjutan.

Kondisi ini juga memunculkan harapan agar kebutuhan dasar seperti akses jalan tidak selalu menunggu viral atau menjadi tajuk utama pemberitaan untuk mendapat perhatian. Infrastruktur penghubung antar desa merupakan elemen vital yang menentukan kualitas hidup masyarakat pedesaan — dampaknya menjalar ke pendidikan, kesehatan, hingga distribusi hasil pertanian.

Bagi warga Majakerta dan Wisnu, kedatangan material jembatan darurat menjadi bukti bahwa respons cepat sangat mungkin dilakukan ketika ada kemauan dan koordinasi. Kini masyarakat menanti langkah lanjutan agar akses vital ini benar-benar pulih secara permanen, bukan sekadar bertahan hingga musim berikutnya.

(Red-Tim liputan)
Editor:Sofid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *