News

Kelangkaan Solar Picu Antrian Mengular di SPBU Pantura, Pemerintah Dinilai Lalai Antisipasi

×

Kelangkaan Solar Picu Antrian Mengular di SPBU Pantura, Pemerintah Dinilai Lalai Antisipasi

Sebarkan artikel ini

Kelangkaan Solar Picu Antrian Mengular di SPBU Pantura, Pemerintah Dinilai Lalai Antisipasi

RABN.CO.ID, TEGAL – Pantura kembali tersengal. Sejak dua hari terakhir, antrean truk dan bus memadati hampir seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di jalur strategis Jawa “Pantura” itu. Solar langka. Pengemudi mengeluh. Sementara pemerintah seperti biasa sibuk berkelit.(6/12/2025)

Dari pantauan awak media rabn.co.id ,di SPBU 44.521.09 , Jalan Raya Dampyak KM 3,5 Tegal , antrean truk mengular hingga hampir satu kilometer sejak subuh. Para sopir yang ditemui mengaku sudah menunggu lebih dari empat jam. Solar tak kunjung datang. “Sudah dari kemarin kosong. Kami hanya disuruh tunggu kiriman, tapi tak jelas jam berapa,” keluh Eman, sopir truk pengangkut Sparepart.

Situasi serupa terjadi di Pemalang , Pekalongan, hingga , Kendal.

Jalur Pantura yang menjadi nadi logistik nasional terganggu. Distribusi barang tersendat. Kerugian ekonomi mengintip.

Namun, hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan komprehensif dari Pertamina maupun kementerian terkait.

Akibat kelangkaan ini, sejumlah logistik ekspor-impor terancam molor. Sopir yang membawa bahan pangan segar menuju Surabaya terpaksa mematikan mesin berjam-jam karena kekurangan solar. “Kalau barang rusak, siapa yang tanggung?” ujar Rudi, sopir tronton yang tampak lelah.

Menurut sumber dilokasi menilai, pemerintah gagal membaca pola konsumsi dan pasokan, terutama menjelang puncak arus distribusi akhir tahun. “Ini bukan baru terjadi hari ini. Ada sinyal sejak minggu lalu. Tapi tidak ada mitigasi. Ketika stok seret, rakyat yang dikorbankan,” katanya

Sementara itu, aparat di lapangan sibuk mengatur kemacetan yang merambat dari halaman SPBU hingga badan jalan. Jalur Pantura yang seharusnya lancar mendadak menjadi barisan kendaraan yang mati suri.

Hingga kini, publik hanya menunggu: apakah pemerintah akan memberi penjelasan jernih, atau kembali menyodorkan retorika penghibur tanpa solusi.

Yang jelas, kelangkaan solar di Pantura bukan sekadar soal BBM kosong. Ia menjadi cermin klasik: kebijakan yang selalu terlambat, respons yang selalu reaktif, dan rakyat yang selalu jadi korban pertama.

Di tengah macet yang kian absurd “Kalo begini terus mungkin nanti beli BBM bukan lagi di SPBU,tapi di cari seperti harta Karun.”ucap supir pada awak media.(Red – MF)

Editor: Sofid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *