News

Pengabdian Panjang, Harapan Pupus: Peserta Seleksi Ungkap Dugaan Kecurangan Tes Tertulis Perangkat Desa Kabunan

×

Pengabdian Panjang, Harapan Pupus: Peserta Seleksi Ungkap Dugaan Kecurangan Tes Tertulis Perangkat Desa Kabunan

Sebarkan artikel ini

Pengabdian Panjang, Harapan Pupus: Peserta Seleksi Ungkap Dugaan Kecurangan Tes Tertulis Perangkat Desa Kabunan

RABN.CO.ID, PEMALANG – 30 Desember 2025 – Harapan untuk mendapatkan pengakuan atas pengabdian belasan tahun di pemerintahan Desa Kabunan Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang seketika pupus. Sejumlah peserta seleksi perangkat Desa Kabunan mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap pelaksanaan tes tertulis yang dinilai sarat kejanggalan dan diduga penuh kecurangan.

Peserta S yang belasan tahun telah mengabdi—baik sebagai tenaga honorer, pembantu administrasi, maupun perangkat non-struktural—mengaku merasa dipermainkan oleh proses seleksi yang seharusnya menjunjung tinggi keadilan dan transparansi.
“Saya sudah mengabdi belasan tahun, paham kerja desa, paham pelayanan masyarakat.Tapi yang kami tonton justru tes tertulis yang hasilnya seperti sudah ditentukan,” ucapnya

Menurut sumber Kepada awak media menuturkan melalui WhatsApp “Kemarin Saya Sebetulnya tidak mau hadir, ikut tes tertulis,karena saya sudah tahu dari jauh sebelum pelaksanaan tes ,siapa yang bakal lulus – tapi karena ini kewajiban,maka saya harus hadir,”imbuhnya

“Info yang berkembang yang bersangkutan S akan mengundurkan diri (resign) dari statusnya sebagai tenaga Honorer di Pemdes Kabupaten Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang,karena merasa dikecewakan” katanya

Dugaan publik sudah sangat jelas dan terjawab ,pelaksanaan tes tertulis tak ubahnya sebuah tontonan gratis,dan transparansi sebagai lipstik.

Tes tertulis yang digelar secara terbuka justru memunculkan kritik keras. Menurut peserta, pelaksanaan ujian seolah hanya menjadi pertunjukan formalitas—ditonton peserta dan publik—namun tanpa jaminan integritas hasil.

Beberapa peserta mengaku menyaksikan langsung kejanggalan selama proses berlangsung, mulai dari pembuatan tes dadakan, pengawasan yang longgar hingga dugaan perlakuan berbeda terhadap peserta tertentu.

Kondisi ini memperkuat kecurigaan bahwa tes tertulis tidak benar-benar menjadi alat ukur utama kelulusan.
“Kalau memang nilai tes yang menentukan, seharusnya semua diperlakukan sama. Tapi yang kami lihat, ada peserta yang seperti sudah ‘aman’ sejak awal,” kata peserta lainnya.

Pengabdian Tak Berbanding Lurus dengan Penilaian
Kekecewaan semakin dalam karena pengabdian panjang yang telah mereka berikan kepada desa seolah tak memiliki arti.

Peserta menilai pengalaman kerja dan loyalitas bertahun-tahun tidak dihargai, sementara faktor kedekatan dan relasi justru diduga lebih menentukan.

Dugaan adanya konflik kepentingan pun mencuat, terutama setelah beredar informasi mengenai hubungan kekerabatan antara peserta Wilson AB Formasi Perencanaan dengan score nilai tertinggi (82) dan Nurdiyana Handayani formasi Umum dan TU Score Nilai (78 ),dengan elite pemerintahan desa.

Meski belum terbukti, isu ini telanjur memicu krisis kepercayaan.
“Kalau pengabdian belasan tahun saja kalah oleh kedekatan, ini bukan lagi soal tes, tapi soal keadilan,” ujar seorang warga yang ikut menyaksikan pelaksanaan seleksi.

Kritik Terhadap Tata Kelola Desa
Pengamat kebijakan desa menilai, jika dugaan kecurangan ini benar adanya, maka persoalannya bukan sekadar seleksi perangkat, melainkan kegagalan tata kelola pemerintahan desa. Tes tertulis yang idealnya menjadi simbol meritokrasi justru berubah menjadi legitimasi prosedural bagi keputusan yang telah disiapkan.

Praktik semacam ini, jika dibiarkan, berpotensi melanggengkan budaya nepotisme dan menutup ruang bagi aparatur desa yang profesional dan berintegritas.

Desakan Evaluasi dan Transparansi
Peserta seleksi dan masyarakat mendesak agar panitia seleksi serta pemerintah Desa Kabunan membuka secara terbuka hasil nilai tes tertulis, metode penilaian, dan dasar penetapan kelulusan. Mereka juga meminta keterlibatan pihak kecamatan dan inspektorat untuk melakukan evaluasi independen.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pemerintah Desa Kabunan belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan kecurangan tersebut.

Bagi para peserta, persoalan ini bukan semata soal lulus atau tidak lulus. Lebih dari itu, ini adalah soal penghargaan terhadap pengabdian, kejujuran dalam proses, dan masa depan tata kelola desa yang seharusnya berdiri di atas prinsip keadilan, bukan kedekatan.(Red-Tim liputan)

Editor:Sofid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *