News

Pohon Tua Dibiarkan, Nyawa Melayang: Guru Tewas di Bantarbolang, KPH Baru ‘Bangun’ Setelah Batang Roboh

×

Pohon Tua Dibiarkan, Nyawa Melayang: Guru Tewas di Bantarbolang, KPH Baru ‘Bangun’ Setelah Batang Roboh

Sebarkan artikel ini

Pohon Tua Dibiarkan, Nyawa Melayang: Guru Tewas di Bantarbolang, KPH Baru ‘Bangun’ Setelah Batang Roboh

RABN.CO.ID, PEMALANG – Tragedi memilukan terjadi di Jalan Raya Bantarbolang, tepatnya di wilayah Lenggerong, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, Sabtu malam (14/3/2026) sekitar pukul 22.00 WIB. Sepasang suami istri yang tengah melintas menggunakan sepeda motor justru menjadi korban pohon tumbang yang selama ini diduga luput dari perhatian pengelola kawasan.Korban diketahui warga Desa Karangasem RT 003 RW 003, Kecamatan Bantarbolang, yang mengendarai sepeda motor bernomor polisi G 3480 MW. Dalam kejadian tersebut, Tri Endang Kurniasih, seorang guru, meninggal dunia di lokasi setelah tertimpa batang pohon besar yang tiba-tiba roboh ke badan jalan.Sementara suaminya, Amin Nurrozaq, seorang perawat,mengalami luka serius dan dalam kondisi kritis. Korban langsung dievakuasi warga dan petugas ke RSUD. Dr. M.Ashari untuk mendapatkan perawatan intensif. Minggu (15/3/2026)

Peristiwa nahas itu terjadi saat pasangan suami istri tersebut melintas di jalur yang dikenal banyak ditumbuhi pepohonan besar di sisi jalan. Saat hujan mengguyur wilayah tersebut, pohon yang diduga sudah tua dan rapuh tiba-tiba roboh tepat ketika korban melintas.

Benturan keras antara batang pohon dan sepeda motor membuat korban tidak sempat menghindar. Suara keras dari kejadian itu langsung mengundang perhatian warga sekitar yang kemudian berhamburan menuju lokasi untuk memberikan pertolongan. Namun sayang, nyawa Tri Endang tidak dapat diselamatkan.

Tak lama berselang, personel Polsek Bantarbolang bersama Satlantas Polres Pemalang tiba di lokasi untuk melakukan penanganan serta pengamanan tempat kejadian perkara (TKP). Petugas bersama warga kemudian melakukan evakuasi korban sekaligus memotong batang pohon yang menutup sebagian badan jalan agar arus lalu lintas kembali normal.

Meski proses pembersihan berjalan hingga larut malam, peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar dari warga: mengapa pohon yang diduga sudah tua dan rawan tumbang itu dibiarkan begitu saja?

Sejumlah warga menilai kejadian ini tidak sekadar musibah alam, melainkan juga akibat minimnya antisipasi dan pengawasan terhadap kondisi pepohonan di sepanjang jalur tersebut. Mereka menyebutkan bahwa beberapa pohon di kawasan itu sebenarnya sudah lama terlihat tua, miring, bahkan berpotensi roboh saat hujan atau angin kencang.
“Kalau dicek rutin mungkin bisa dicegah. Pohon di sini banyak yang sudah tua dan rawan tumbang,” ujar salah satu warga.

Sorotan pun mengarah pada Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang dinilai memiliki tanggung jawab dalam pemantauan serta perawatan pohon di kawasan tersebut.

Warga menilai pemangkasan atau pemeriksaan kondisi pohon seharusnya dilakukan secara berkala, bukan menunggu sampai pohon benar-benar tumbang dan memakan korban jiwa.

Ironisnya, jalur Bantarbolang merupakan salah satu akses penting yang menghubungkan berbagai wilayah di Kabupaten Pemalang. Jalan yang diapit pepohonan besar ini memang memberikan kesan teduh, namun tanpa perawatan yang memadai justru berubah menjadi ancaman tersembunyi bagi pengguna jalan.

Peristiwa ini seolah menjadi pengingat pahit bahwa keselamatan publik tidak boleh kalah oleh kelalaian administratif. Ketika pohon tua dibiarkan berdiri tanpa pengawasan, yang dipertaruhkan bukan sekadar batang kayu yang roboh, tetapi juga nyawa manusia yang melintas di bawahnya.

Hingga saat ini pihak kepolisian masih melakukan pendataan terkait kejadian tersebut serta mengimbau para pengguna jalan untuk lebih berhati-hati saat melintas di jalur yang banyak ditumbuhi pohon besar, terutama pada malam hari dan saat cuaca buruk.

Tragedi ini sekaligus menjadi peringatan keras bagi pihak terkait agar mitigasi risiko tidak hanya menjadi wacana di atas kertas, melainkan benar-benar diwujudkan di lapangan. Sebab bagi keluarga korban, kelalaian sekecil apa pun telah berubah menjadi kehilangan yang tak tergantikan.

(Red/Frj)
Editor:Sofid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *