Retribusi Jalan, Fasilitas Hilang: Pedagang Pasar Pemalang Menjerit Atap Bocor, Becek, Sepinya Pembeli !
RABN.CO.ID, PEMALANG – Di tengah gencarnya kampanye pemerintah mengenai penguatan ekonomi kerakyatan, ironi justru terlihat jelas di lapangan. Pasar tradisional yang selama ini menjadi pilar utama perputaran ekonomi rakyat kecil sering kali luput dari perhatian serius.
Padahal, keberadaan pasar bukan hanya soal transaksi jual beli, tetapi ruang hidup, ruang harapan, dan ruang bertahan bagi ribuan pedagang yang menggantungkan nafkah setiap harinya. Namun realita berkata lain: banyak pasar tradisional di daerah masih bergulat dengan persoalan klasik yang tak kunjung terselesaikan.
Kondisi Pasar Pagi Pemalang kembali menegaskan bahwa masih ada pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah dalam merawat fasilitas publik. Setiap kali hujan turun, kawasan pasar berubah menjadi lokasi yang tak layak: atap bocor, lantai becek, hingga situasi yang membuat pembeli enggan datang. Pendapatan pedagang pun anjlok, sementara retribusi tetap ditarik tanpa kompromi.(24/11/2025)
Para pedagang mempertanyakan di mana peran pemerintah daerah dan Dinas Koperasi, UMKM, serta Perindustrian & Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Pemalang yang seharusnya memastikan pasar berjalan layak sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat kecil.
Salah satu pedagang senior, Bu Isah, menggambarkan kondisi itu dengan suara lirih bercampur kecewa.
“Saya minta tolong sama aparat untuk bisa memperhatikan Pasar Pemalang. Kalau hujan pada bocor, sementara kami harus bayar tiap hari. Pasar Pagi Pemalang jangan dianak-tirikan,” ujarnya.
Keluhan Bu Isah menguatkan fakta bahwa banyak pedagang sudah lama merasakan ketidaknyamanan akibat minimnya perbaikan sarana dan prasarana pasar. Pengunjung semakin enggan datang saat hujan karena kondisi lapak yang licin, becek, dan jauh dari kesan nyaman.
Ironisnya, retribusi tetap dipungut setiap hari tanpa adanya penjelasan yang transparan mengenai pemanfaatan dana tersebut. Para pedagang pun mempertanyakan apakah dana yang dikumpulkan selama ini pernah benar-benar kembali ke dalam bentuk perbaikan fasilitas.
Situasi ini memunculkan desakan kuat agar pemerintah daerah segera turun tangan melakukan inspeksi, audit retribusi, hingga langkah perbaikan konkret. Pasar tradisional adalah denyut ekonomi rakyat,mengabaikannya sama dengan membiarkan ribuan keluarga kehilangan stabilitas mata pencaharian.(Red/RS)
Editor: Sofid











