News

Retribusi Terus Berjalan, Gardu Parkir RSUD dr Ashari Tak Ubahnya Pos Kamling, Estetika Dipertanyakan

×

Retribusi Terus Berjalan, Gardu Parkir RSUD dr Ashari Tak Ubahnya Pos Kamling, Estetika Dipertanyakan

Sebarkan artikel ini

Retribusi Terus Berjalan, Gardu Parkir RSUD dr Ashari Tak Ubahnya Pos Kamling, Estetika Dipertanyakan

RABN.CO.ID, PEMALANG – Retribusi parkir di lingkungan RSUD dr. Ashari, Pemalang, terus berjalan sebagaimana mestinya. Setiap kendaraan yang masuk dikenai tarif sesuai ketentuan. Namun di balik rutinitas penarikan retribusi tersebut, kondisi fisik fasilitas parkir justru menuai sorotan tajam dari masyarakat.Senin (17/2/2026)

Gardu parkir yang menjadi pintu keluar-masuk kendaraan dinilai tak ubahnya “pos kamling”, sementara aspal di sejumlah titik tampak tambal sulam dan jauh dari kesan representatif sebagai wajah rumah sakit daerah.

Sorotan ini mencuat karena RSUD dr. Ashari, Pemalang, merupakan fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah daerah yang menjadi rujukan utama masyarakat. Setiap hari ratusan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, keluar-masuk mengantar pasien, keluarga, maupun tenaga medis.

Dengan intensitas tinggi tersebut, publik menilai seharusnya fasilitas penunjang seperti area parkir mendapatkan perhatian serius, baik dari sisi kenyamanan, keamanan, maupun estetika.

Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi gardu parkir yang sederhana, dengan konstruksi dan tampilan yang minim perawatan. Cat terlihat kusam, papan informasi kurang tertata, dan penataan ruang yang sempit membuat kesan kumuh tak terhindarkan.

Sebagian warga bahkan menyebut bentuknya lebih menyerupai “pos ronda” lingkungan perkampungan ketimbang gerbang resmi sebuah rumah sakit daerah.

Tak hanya itu, kondisi aspal di zona parkir juga menjadi keluhan. Di beberapa titik terlihat tambalan-tambalan batu split dengan warna berbeda, permukaan yang tidak rata, hingga genangan air saat hujan turun.

Kondisi ini tidak hanya mengurangi kenyamanan, tetapi juga berpotensi membahayakan pengguna, terutama pengendara roda dua dan pejalan kaki yang membawa pasien lanjut usia.

“Retribusi jalan terus, tapi fasilitasnya seperti ini. Harusnya ada perbaikan menyeluruh, bukan tambal sulam,” ujar salah seorang pengunjung yang enggan disebut namanya. Ia berharap pengelola rumah sakit maupun pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan parkir, termasuk penggunaan dana retribusi untuk peningkatan fasilitas.

Isu transparansi dan akuntabilitas pun ikut mencuat. Masyarakat mempertanyakan sejauh mana pendapatan dari retribusi parkir dialokasikan kembali untuk pembenahan sarana dan prasarana. Jika setiap hari ada pemasukan rutin, publik menilai wajar apabila mereka berharap adanya peningkatan kualitas layanan, termasuk penataan area parkir yang lebih layak dan representatif.

Dari sisi tata kota, kondisi ini juga dinilai mencederai estetika ruang publik. RSUD sebagai institusi pelayanan kesehatan semestinya menampilkan wajah yang tertib, bersih, dan nyaman.

Area parkir merupakan bagian pertama yang dilihat pengunjung sebelum memasuki gedung utama. Kesan awal tersebut penting dalam membangun citra pelayanan yang profesional.

Sejumlah pemerhati tata ruang menilai penataan parkir seharusnya dirancang dengan konsep yang lebih terintegrasi. Mulai dari desain gardu yang permanen dan modern, marka parkir yang jelas, sistem drainase yang baik, hingga pencahayaan memadai untuk keamanan pada malam hari. Penataan yang baik bukan hanya soal estetika, tetapi juga menyangkut keselamatan dan efisiensi arus kendaraan.

Selain itu, penerapan sistem parkir yang lebih tertib dan berbasis teknologi juga dinilai perlu dipertimbangkan.

Penggunaan sistem tiket elektronik atau portal otomatis misalnya, dapat meningkatkan transparansi sekaligus meminimalisasi potensi kebocoran pendapatan.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya membayar retribusi, tetapi juga merasakan peningkatan kualitas layanan secara nyata.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola RSUD dr. Ashari, Pemalang maupun instansi terkait mengenai rencana pembenahan area parkir tersebut. Namun desakan publik agar dilakukan evaluasi menyeluruh kian menguat.

Masyarakat berharap pemerintah daerah tidak menutup mata terhadap kondisi ini. Retribusi yang terus berjalan seyogianya sebanding dengan kualitas fasilitas yang diberikan.Perbaikan menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam, dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar wajah RSUD dr Ashari sebagai rumah sakit kebanggaan daerah tetap terjaga.

Pertanyaan pun mengemuka: ke mana arah pengelolaan dan perawatan fasilitas penunjang ini? Jika estetika dan kenyamanan terus diabaikan, bukan hanya citra yang dipertaruhkan, tetapi juga kepercayaan publik terhadap kualitas layanan yang diberikan.

Kini bola ada di tangan pengambil kebijakan.

Apakah kritik ini akan menjadi momentum pembenahan, atau sekadar berlalu sebagai keluhan rutin tanpa tindak lanjut? Yang jelas, masyarakat menunggu langkah konkret agar retribusi yang dibayarkan benar-benar kembali dalam bentuk pelayanan dan fasilitas yang lebih baik.

(Red/MF)
Editor:Sofid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *