News

Tragedi di Hari Jadi Pemalang ke-451: Banjir Bandang Merenggut Nyawa, Pejabat Berjoget Ria

×

Tragedi di Hari Jadi Pemalang ke-451: Banjir Bandang Merenggut Nyawa, Pejabat Berjoget Ria

Sebarkan artikel ini

Tragedi di Hari Jadi Pemalang ke-451: Banjir Bandang Merenggut Nyawa, Pejabat Berjoget Ria

RABN.CO.ID, PEMALANG – 24 Januari 2026
Peringatan Hari Jadi Pemalang ke-451 yang semestinya berlangsung khidmat justru berubah menjadi ironi pahit. Saat banjir bandang disertai angin kencang menerjang wilayah Pemalang bagian selatan dan merenggut nyawa seorang warga, di waktu yang hampir bersamaan panggung hiburan perayaan tetap berlangsung meriah.

Sebuah video yang memperlihatkan Bupati Pemalang berjoget di tengah acara hiburan kemudian viral di media sosial dan memicu gelombang kecaman publik.

Berdasarkan data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), banjir bandang melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Pulosari dan sekitarnya akibat hujan deras berkepanjangan. Arus air yang deras merusak rumah warga, menyeret material lumpur, batu, hingga kayu gelondongan. Peristiwa ini menyebabkan sedikitnya satu warga meninggal dunia dan puluhan lainnya terpaksa mengungsi.

Namun duka tersebut tampak berseberangan dengan suasana di pusat perayaan Hari Jadi Pemalang ke-451.

Di saat relawan dan warga berjibaku mengevakuasi korban serta membersihkan sisa lumpur dari rumah-rumah terdampak, acara hiburan tetap digelar tanpa penghentian. Rekaman video yang beredar luas memperlihatkan Bupati Pemalang berjoget mengikuti irama musik.

Unggahan tersebut memicu kemarahan warganet.
Banyak pihak menilai sikap itu tidak mencerminkan empati seorang kepala daerah di tengah bencana dan duka yang dialami warganya.

“Warga kami sedang kehilangan anggota keluarga, rumah terendam, harta benda rusak. Tapi pemimpin daerah justru terlihat bersuka ria. Ini bukan sekadar soal acara, ini soal nurani,” ujar seorang tokoh masyarakat Pemalang selatan kepada wartawan.

Sorotan juga datang dari aktivis kemanusiaan dan pemerhati kebijakan publik. Mereka menilai, dalam situasi darurat bencana, pemerintah daerah semestinya segera menetapkan status tanggap darurat, menghentikan seluruh rangkaian hiburan, dan memusatkan perhatian pada evakuasi, penanganan korban, serta pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi.

“Simbol kepemimpinan itu sangat penting. Ketika pemimpin tampil di panggung hiburan sementara warganya berduka, pesan yang sampai ke publik adalah ketidakpekaan,” kata seorang pengamat kebijakan publik lokal.

Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kabupaten Pemalang belum memberikan pernyataan resmi terkait viralnya video tersebut. Sementara itu, di lapangan, warga masih berjuang membersihkan lumpur, mencari barang-barang yang tersisa, dan menanti bantuan logistik.

Tragedi di Hari Jadi Pemalang ke-451 ini meninggalkan luka mendalam.
Banjir bandang bukan hanya merenggut nyawa, tetapi juga membuka kembali pertanyaan besar tentang kehadiran negara di saat warganya paling membutuhkan: apakah pemimpin berdiri di tengah penderitaan rakyatnya, atau larut dalam gemerlap panggung perayaan? (Red-Tim liputan)

Editor:Sofid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *