UMKM Mati Suri Akibat Retribusi Berbayar di Area Sirkuit Wisata Widuri Pemalang
RABN.CO.ID, PEMALANG –Penerapan retribusi berbayar bagi pengunjung Area Sirkuit Wisata Widuri memantik gelombang keluhan dari pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) setempat. Sejak kebijakan itu diberlakukan, geliat ekonomi di kawasan yang sebelumnya menjadi simpul keramaian wisata justru meredup. Pedagang menyebut dagangan mereka kini “mati suri”.
Deretan kios dan aneka kuliner ditepi pantai Widuri sisi kiri “area sirkuit”yang biasanya padat di akhir pekan berubah lengang. Siti Aminah, pedagang bubur ayam, tampak beberapa kali menutup lapak lebih cepat dari biasanya. “Biasanya jam segini sudah ramai. Sekarang bisa dua jam tidak ada pembeli. Orang malas masuk mungkin karena bayar,” katanya ketika ditemui awak media.( 21/11/2025)
Kebijakan retribusi yang dipungut di pintu masuk kawasan sirkuit itu besarnya bervariasi, bergantung jenis kendaraan.
.Hari-hari biasa Harga Tanda Masuk (HTM) per Orang Rp 4500,-
.Hari libur per orang diharuskan bayar Rp. 6000, belum termasuk bayar parkir dilokasi.
Salah satu penjual bubur ayam,menuturkan,”berbeda dengan yang disebelah barat,disana tidak ada retribusi,dan tutupnya juga malam,maka ramai sekali,yang disini “sirkuit” dibatasi hanya sampai pukul 18.00 Wib, jualan pun sepi, dan setiap hari saya harus buang sisa dagangan yang tidak laku, coba berapa liter beras tiap hari yang harus saya buang, kami berharap ada perhatian dari pemerintah daerah,”tutupnya
Pemerintah berdalih pungutan diperlukan untuk pemeliharaan fasilitas kawasan wisata. Namun para pedagang menilai keputusan itu serampangan dan minim kajian.
Mereka berharap retribusi ditinjau kembali atau diberi pengecualian di hari-hari tertentu. “Kami bukan menolak aturan, tapi kami perlu hidup,” tambanya.
Di tengah situasi yang kian sunyi, para pedagang tetap menyalakan harapan kecil agar pemerintah segera turun tangan. “Widuri itu jantungnya UMKM. Kalau jantungnya dibuat macet, bagaimana darahnya bisa mengalir?” tutur salah satu pedagang sebelum kembali merapikan lapak yang tak kunjung didatangi pembeli.
“Wisata itu hidup dari pengunjung,UMKM hidup dari wisata.Kalau pintu masuk dipersempit dengan retribusi, yang mati bukan hanya keramaian,tapi harapan.”Pungkasnya (Red/MF)
Editor: Sofid











