Jalan Rusak di Depan Rumah Wakil Rakyat: Ketika Janji Politik Tersandung Lubang Realitas
RABN.CO.ID, PEMALANG – Demokrasi kadang menghadirkan pemandangan yang lebih tajam daripada pidato politik. Di Jalan Guntur, Kelurahan Beji, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, sebuah jalan rusak dan berlubang berdiri sebagai monumen kecil yang mengingatkan publik pada satu hal: janji politik sering kali lebih cepat melaju daripada realisasi pembangunan.Selasa (9/6/2026)
Ironinya, kerusakan jalan itu berada tepat di kawasan yang dekat dengan kediaman seorang anggota legislatif. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan yang sulit dihindari masyarakat. Jika persoalan yang terlihat setiap hari dari depan rumah sendiri belum mampu dituntaskan, bagaimana publik dapat berharap persoalan yang lebih jauh dan lebih kompleks akan mendapatkan perhatian yang memadai?
Lubang-lubang di badan jalan kini bukan sekadar kerusakan infrastruktur. Ia telah berubah menjadi simbol sosial. Setiap pengendara yang memperlambat laju kendaraan, setiap warga yang harus menghindari genangan air saat musim hujan, seakan sedang membaca kembali naskah lama tentang hubungan yang renggang antara aspirasi rakyat dan prioritas kekuasaan.

Dalam bahasa kritik yang lebih filosofis, jalan rusak itu seperti ujian sederhana bagi akal sehat politik. Sebab pembangunan tidak selalu membutuhkan slogan besar atau seremoni megah.
Kadang yang dibutuhkan masyarakat hanyalah keberanian melihat kenyataan yang berada tepat di depan mata. Namun dalam praktiknya, yang sering terjadi justru sebaliknya: pidato berkembang semakin tinggi, sementara kualitas jalan tetap rendah.
Warga sekitar mengaku telah lama menaruh harapan agar kerusakan tersebut segera diperbaiki. Namun harapan itu perlahan berubah menjadi sindiran. Sebagian masyarakat bahkan menyebut
lubang-lubang jalan tersebut sebagai “ikon baru” yang lebih konsisten hadir dibanding sejumlah janji pembangunan yang pernah digaungkan saat musim kampanye.

Fenomena ini menunjukkan persoalan klasik dalam demokrasi elektoral. Saat pemilu mendekat, infrastruktur menjadi tema favorit. Jalan rusak, drainase buruk, dan pelayanan publik selalu muncul sebagai bahan kampanye yang menjanjikan perubahan cepat. Tetapi setelah suara rakyat berhasil dikumpulkan dan kursi kekuasaan diperoleh, tidak sedikit agenda yang kemudian tenggelam di antara rutinitas politik dan kepentingan birokrasi.
Dari sudut pandang kebijakan publik, jalan bukan hanya soal aspal dan batu. Jalan adalah urat nadi ekonomi warga, akses pendidikan, mobilitas sosial, hingga faktor keselamatan. Karena itu, membiarkan jalan rusak berlarut-larut bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cerminan lemahnya sensitivitas terhadap kebutuhan dasar masyarakat.
Jalan Guntur Kelurahan Beji Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang, hari ini telah menjelma menjadi metafora politik yang sangat jelas. Lubangnya bukan hanya berada di badan jalan, tetapi juga menggambarkan lubang dalam kepercayaan publik. Dan seperti yang sering diingatkan para pengamat kritis, rakyat tidak menuntut keajaiban. Mereka hanya meminta hal yang paling mendasar: jalan yang layak, aman, dan janji yang tidak berhenti sebagai bahan kampanye.
Selama lubang-lubang itu masih menganga, pertanyaan warga akan terus bergema lebih keras daripada baliho politik mana pun: ke mana perginya janji yang dulu begitu lantang disampaikan ?
(Red/Frj)
Editor: Sofid











