EDITORIAL || Runtuhnya Kerajaan Soka Pilar: Karena Keangkuhan Permaisuri dan Keserakahan Lingkaran Keraton yang Memaksa Menarik Upeti
RABN.CO.ID, PEMALANG – 1 Agustus 2026* – Di sebuah negeri bernama Kerajaan Soka Pilar, kemegahan istana pernah menjadi lambang kemakmuran. Rakyat hidup tenteram, sawah menghijau, perdagangan berkembang, dan kepercayaan kepada tahta menjadi fondasi yang kokoh.
Namun, kejayaan itu perlahan memudar. Bukan karena serangan musuh dari luar, melainkan oleh kerakusan yang tumbuh di dalam tembok keraton sendiri.
Konon, sang Permaisuri menjadi sosok yang semakin angkuh. Suara rakyat tak lagi terdengar di telinganya. Bisikan para penasihat yang jujur dikalahkan oleh sanjungan para pemburu kuasa. Di sekeliling singgasana, terbentuk lingkaran istana yang lebih sibuk menghitung upeti daripada memikirkan kesejahteraan negeri.
Setiap pejabat yang ingin memperoleh kedudukan harus membawa persembahan.
Setiap saudagar yang menginginkan kemudahan dipaksa memberi upeti. Bahkan para kepala wilayah harus mengirimkan hasil bumi bukan sebagai tanda hormat, melainkan sebagai harga agar tetap mendapat perlindungan.
Keserakahan itu akhirnya menjadi budaya. Jabatan dipandang sebagai ladang keuntungan, bukan amanah. Rakyat diperas melalui berbagai pungutan, sementara para pembesar berlomba membangun kemewahan di balik dinding keraton.
Tak ada kerajaan yang mampu bertahan ketika keadilan dijual kepada mereka yang paling banyak memberi. Ketika hukum tunduk kepada kekuasaan dan kekuasaan tunduk kepada harta, kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.
Suatu hari, fondasi Soka Pilar mulai retak. Kepercayaan rakyat runtuh lebih dahulu daripada tembok istana.
Para pengawal kehilangan wibawa, para pejabat saling menyalahkan, dan mereka yang dahulu berebut mendekati singgasana perlahan menghilang meninggalkan rajanya.
Kerajaan yang tampak megah dari kejauhan ternyata rapuh karena dibangun di atas kesombongan dan keserakahan. Tak ada benteng yang cukup kuat melindungi kekuasaan apabila moral para penguasanya telah roboh.
Kisah Soka Pilar hanyalah cerita fiksi. Namun, ia menyimpan pesan yang selalu relevan: sebuah pemerintahan tidak akan runtuh semata karena musuh dari luar, melainkan karena pengkhianatan terhadap amanah dari dalam.
Keangkuhan menutup mata, keserakahan membutakan nurani, dan upeti yang dipaksakan menjadi awal dari hancurnya kepercayaan.
Pada akhirnya, sejarah selalu mengingat bahwa kekuasaan adalah titipan, bukan warisan abadi.
Ketika tahta dijadikan alat memperkaya lingkaran kekuasaan, maka keruntuhan bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan.
(Red/Frj)
Editor: Sofid











