News

Merusak Sepanduk, Merusak Etika: Ketika Pilkades Mulai Kehilangan Akal Sehat

×

Merusak Sepanduk, Merusak Etika: Ketika Pilkades Mulai Kehilangan Akal Sehat

Sebarkan artikel ini

Merusak Sepanduk, Merusak Etika: Ketika Pilkades Mulai Kehilangan Akal Sehat

RABN.CO.ID, PEMALANG – Pilkades seharusnya menjadi ruang bagi warga desa untuk memilih pemimpin, bukan arena untuk menguji seberapa jauh seseorang mampu merusak etika demokrasi.(30/9/2026)

Sebuah poster yang beredar membawa pesan keras: *“Merusak sepanduk, bukan cara yang bijak untuk menang.”* Poster tersebut menampilkan dukungan terhadap salah satu calon kepala desa dengan seruan agar perbedaan pilihan tidak berubah menjadi tindakan merusak atribut kampanye.

Pesannya sederhana, tetapi justru karena sederhana ia menjadi tamparan bagi logika politik yang mulai kehilangan arah: boleh berbeda pilihan, tetapi jangan gadaikan etika.

Dalam demokrasi, lawan politik adalah orang yang berbeda pilihan, bukan musuh yang harus disingkirkan. Kalau kemenangan harus dimulai dengan merobek sepanduk, mencopot poster, atau merusak alat peraga calon lain, pertanyaannya menjadi menarik: yang sedang diperjuangkan itu kemenangan atau ketakutan terhadap pilihan warga?

Sebab sepanduk tidak punya suara. Poster tidak punya hak pilih. Yang menentukan tetap manusia—dan manusia memilih berdasarkan pertimbangan, bukan berdasarkan siapa yang paling cepat merusak atribut lawannya.

Di sinilah ironi Pilkades muncul.

Kita sering berbicara tentang demokrasi seolah-olah demokrasi hanya soal mencoblos. Padahal demokrasi juga soal kemampuan menahan tangan ketika emosi menyuruh merusak, menahan mulut ketika provokasi meminta penghinaan, dan menahan ambisi ketika kemenangan belum tentu menjadi haknya.

Merusak atribut kampanye juga tidak otomatis membuat pilihan warga berubah. Sebaliknya, tindakan semacam itu justru berpotensi memperlihatkan bahwa kontestasi telah bergeser dari adu gagasan menjadi adu keberanian melakukan tindakan yang tidak semestinya.

Poster tersebut juga mengingatkan warga Kabunan untuk menjaga persatuan, kerukunan dan suasana desa.

Pesannya tegas: pilihan boleh berbeda, tetapi desa tetap satu.
Karena setelah Pilkades selesai, para calon boleh kembali ke rumah masing-masing. Namun warga tetap bertetangga, tetap bertemu di jalan, tetap bekerja bersama dan tetap hidup dalam satu desa.

Maka ukuran kemenangan bukan sekadar siapa yang memperoleh suara terbanyak. Demokrasi juga meninggalkan pertanyaan yang lebih panjang: apakah setelah pertarungan selesai, kita masih mampu duduk bersama sebagai sesama warga desa?

Sebab demokrasi yang kehilangan etika hanya akan melahirkan kemenangan yang mahal. Dan kalau untuk menang seseorang harus menghancurkan persaudaraan, mungkin yang sebenarnya sedang dirusak bukan sepanduk—melainkan akal sehat demokrasi itu sendiri.
Pilihan boleh berbeda.

*Desa jangan terpecah.*

(Red/Frj)
Editor Sofid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *