Sekretaris Dewan di Sorot !Ketidakhadiran Anggota DPRD Pemalang dalam Upacara Hari Kesaktian Pancasila
RABN.CO.ID, PEMALANG – Dungu! Itulah kata yang mungkin paling tepat untuk mengeja akrobat politik nan banal dari para anggota DPRD Kabupaten Pemalang pada peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Kamis 1 Oktober 2026.
Di saat Plt Bupati Nurkholes bersama pimpinan dewan—Martono, Aris Ismail, Slamet Ramuji, dan Wardoyo—berdiri khidmat mengheningkan cipta untuk menghormati fondasi bernegara, sebagian wakil rakyat justru sibuk “mengheningkan cipta” di balik selimut hotel berbintang di Cirebon dengan dalih bedah Raperda.

Ini bukan lagi soal absen atau hadir, melainkan tentang kelumpuhan akal sehat dalam menyusun skala prioritas. Membenturkan agenda teknis legislasi yang bisu dengan momentum kebangsaan yang sakral adalah bentuk kemalasan berpikir yang akut.
Sekretariat DPRD (Sekwan) bertindak seolah kalender nasional adalah barang gaib yang baru ditemukan kemarin sore, hingga tak mampu melihat bahwa tanggal 1 Oktober sudah terpeta sejak berpuluh-puluh tahun lalu.

Lebih mengesalkan lagi ketika logika efisiensi anggaran diinjak-injak tanpa beban. Mengapa pembahasan hukum lokal Pemalang harus diekspor ke Cirebon? Apakah fasilitas dan hotel di Pemalang kurang layak untuk menampung ide-ide para legislator?
Alasan konsumsi, akomodasi, dan spedometer perjalanan dinas yang menguras APBD ini hanyalah kamuflase dari dahaga plesiran berkedok dinas.
Sekwan tidak bisa sekadar bersembunyi di balik administrasi. Publik menuntut penjelasan transparan: apakah Pancasila kalah sakti dibanding ruang AC hotel di luar daerah?
Keteladanan wakil rakyat telah menguap, digantikan oleh kalkulasi belanja dinas yang tuna-etika. Jika moral publik terus dikorbankan demi kenyamanan fisik, jangan salahkan jika masyarakat menganggap dewan bukan lagi memperjuangkan Perda, melainkan sedang membedah nuraninya sendiri hingga habis tak bersisa.
(Red/Frj)
Editor: Sofid











