News

Warga Belik Bersatu Tolak Galian C: Desak Gubernur Akhmad Luthfi Segera Hentikan Rencana PT Payung Aji Barokah Sebelum Gunung Slamet Menjadi Korban Berikutnya

×

Warga Belik Bersatu Tolak Galian C: Desak Gubernur Akhmad Luthfi Segera Hentikan Rencana PT Payung Aji Barokah Sebelum Gunung Slamet Menjadi Korban Berikutnya

Sebarkan artikel ini

Warga Belik Bersatu Tolak Galian C: Desak Gubernur Akhmad Luthfi Segera Hentikan Rencana PT Payung Aji Barokah Sebelum Gunung Slamet Menjadi Korban Berikutnya

RABN.CO.ID, PEMALANG – Di kaki Gunung Slamet, suara penolakan terhadap rencana tambang galian C terus menguat. Warga Dukuh Kepetek, Desa Belik, Kabupaten Pemalang, bersama sejumlah organisasi pecinta alam dan elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pemalang Selatan membentuk barisan perlawanan terhadap rencana aktivitas pertambangan batuan dan pasir diduga oleh PT Payung Aji Barokah (PAB).Minggu (7/6/2026)

Bagi masyarakat setempat, persoalan ini bukan sekadar soal investasi dan aktivitas ekonomi.Yang sedang dipertaruhkan adalah keberlangsungan sumber air, kelestarian lingkungan, keamanan kawasan pegunungan, serta masa depan masyarakat yang selama puluhan tahun hidup berdampingan dengan alam lereng Gunung Slamet.

Spanduk-spanduk penolakan mulai menghiasi sejumlah titik di wilayah Belik.Aspirasi warga semakin tegas: mereka menolak kawasan yang selama ini menjadi sumber kehidupan berubah menjadi lokasi eksploitasi tambang.

Gelombang penolakan tidak hanya datang dari warga terdampak langsung. Organisasi pecinta alam seperti Shabawana, Daishcamp, dan Limata, Aliansi Masyarakat Pemalang Selatan dan Lindu Aji ikut bergabung bersama masyarakat dalam mengawal kelestarian kawasan Belik yang dikenal memiliki fungsi ekologis penting bagi Kabupaten Pemalang.

Belik selama ini dikenal sebagai daerah dataran tinggi dengan bentang alam perbukitan yang hijau.Kawasan tersebut menjadi daerah tangkapan air yang memasok kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah Pemalang. Di sisi lain, Belik juga berkembang sebagai kawasan pertanian dan pariwisata yang menjadi sumber penghidupan warga.Masyarakat khawatir aktivitas pertambangan akan mengubah wajah kawasan yang selama ini menjadi kebanggaan Pemalang Selatan.

Kekhawatiran itu mencakup potensi kerusakan lingkungan, berkurangnya debit mata air, meningkatnya risiko longsor, hingga terganggunya sektor pertanian dan wisata yang selama ini berkembang secara alami.

Belik sendiri dikenal sebagai sentra Nanas Madu Pemalang, salah satu komoditas unggulan yang telah menjadi identitas ekonomi masyarakat setempat. Selain itu, kawasan wisata alam seperti Bukit Mendelem terus menarik kunjungan wisatawan yang menikmati keindahan panorama pegunungan.

Di tengah berkembangnya potensi pertanian dan pariwisata tersebut, muncul pertanyaan yang kini menjadi suara kolektif warga: mengapa kawasan yang hidup dari air, alam, dan pertanian harus dipertaruhkan untuk aktivitas yang dinilai berisiko terhadap keberlanjutan lingkungan?

Nada kritik warga semakin tajam. Mereka menilai pembangunan seharusnya tidak hanya menghitung nilai material yang tersimpan di dalam perut gunung, tetapi juga menghitung nilai kehidupan yang selama ini dijaga oleh gunung itu sendiri.
“Jangan sampai yang tersisa nanti hanya lubang dan penyesalan. Alam yang rusak tidak bisa dipulihkan dalam hitungan tahun, sementara masyarakat harus hidup dengan dampaknya dalam waktu yang sangat panjang,” ujar salah seorang Komunitas Pecinta Alam

Gerakan penolakan ini kini berkembang menjadi isu publik yang lebih luas. Bukan lagi sekadar persoalan satu dusun atau satu desa, melainkan tentang arah pembangunan Pemalang Selatan di masa depan.

Masyarakat dan organisasi pecinta alam juga mendesak pemerintah untuk turun tangan secara serius menyikapi polemik tersebut. Secara khusus, mereka meminta Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menunjukkan ketegasan dalam menyikapi rencana tambang yang mendapat penolakan luas dari masyarakat.

Warga berharap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak hanya melihat persoalan dari sisi investasi, tetapi juga mempertimbangkan aspek lingkungan, keberlanjutan sumber daya alam, serta aspirasi masyarakat yang akan menerima dampak langsung dari aktivitas pertambangan.

Menurut mereka, kehadiran negara harus dirasakan ketika masyarakat menyuarakan kekhawatiran atas ruang hidupnya. Pemerintah diharapkan mampu menjadi penengah yang adil dengan mengedepankan kajian yang objektif dan berpihak pada keselamatan lingkungan serta kepentingan masyarakat luas.

Di lereng Gunung Slamet, perlawanan warga Belik hari ini sesungguhnya sedang mengajukan pertanyaan besar kepada para pengambil kebijakan: apakah pembangunan akan dikenang sebagai upaya menjaga warisan alam, atau justru sebagai alasan untuk menghabiskannya?

Bagi warga Dukuh Kepetek, jawabannya sudah jelas. Gunung bukan sekadar tumpukan batu dan pasir yang bisa diperjualbelikan. Gunung adalah penjaga mata air, pelindung kehidupan, dan warisan yang harus tetap berdiri untuk anak cucu di masa depan.

(Red/Frj)
Editor:Sofid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *