Ruwat Bumi Desa Glandang 2026, Warga Gelar Kirab Gunungan hingga Wayang Golek di Bulan Muharam 1448 H
RABN.CO.ID, PEMALANG – Masyarakat Desa Glandang, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, akan menggelar tradisi tahunan Ruwat Bumi 2026 sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan hasil bumi sekaligus upaya melestarikan budaya leluhur Jawa di bulan Muharam. Selasa (23/6/2026).
Kegiatan yang telah menjadi tradisi turun-temurun tersebut dijadwalkan berlangsung sepanjang hari dengan rangkaian acara mulai dari kirab gunungan hasil bumi, doa bersama, prosesi ruwatan hingga pagelaran wayang golek semalam suntuk.
Berdasarkan susunan acara panitia, kegiatan diawali dengan persiapan kirab gunungan hasil bumi pada pukul 07.00 hingga 09.00 WIB. Selanjutnya, pukul 10.00 hingga 12.00 WIB digelar doa bersama dan kirab gunungan hasil bumi.

Panitia menegaskan, seluruh gunungan hasil bumi tidak diperbolehkan dibawa pulang sebelum prosesi ruwatan selesai dilaksanakan.
Setelah jeda istirahat dan persiapan, prosesi inti Ruwat Bumi Desa Glandang akan dimulai pukul 13.00 WIB hingga selesai. Panitia juga mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak meninggalkan lokasi sebelum rangkaian ruwatan berakhir.
Pada malam harinya, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua BPD, Ketua Panitia, serta Penjabat (Pj) Kepala Desa Glandang. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pagelaran wayang golek yang akan dibawakan oleh Ki Dalang Haryo Susilo.
Pj Kepala Desa Glandang, Zaenal Imron, mengatakan bahwa tradisi ruwat bumi merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat kepada Allah SWT atas berbagai nikmat dan berkah yang telah diberikan.

“Ruwat bumi di Desa Glandang merupakan wujud rasa syukur masyarakat Desa Glandang kepada Allah SWT atas limpahan berkah dan rezeki yang diberikan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi upaya untuk melestarikan serta nguri-uri budaya Jawa, khususnya di bulan Muharam, agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi muda,” ujar Zaenal Imron.
Menurutnya, tradisi ruwat bumi tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan dan gotong royong masyarakat desa. Tradisi ini sekaligus menjadi momentum menjaga kearifan lokal agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Ruwat bumi sendiri merupakan tradisi budaya masyarakat Jawa yang sarat dengan nilai religius dan sosial, sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil bumi, permohonan keselamatan, serta harapan akan keberkahan di masa mendatang. Tradisi tersebut masih terus dipertahankan di berbagai daerah di Jawa sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya.
(Red/Tim)
Editor : Sofied.











