Pers Bukan Musuh, Pejabat dan Pelaku Usaha Jangan Alergi Fakta
RABN.CO.ID, PEMALANG – Pers bukan musuh kekuasaan. Pers juga bukan lawan bagi pejabat maupun pelaku usaha. Dalam demokrasi, pers justru menjadi salah satu pilar penting yang memastikan kekuasaan tetap berada di jalur kepentingan publik.
Ketika media mengangkat persoalan, kritik, dugaan penyimpangan, atau mempertanyakan kebijakan, respons yang semestinya bukan alergi, apalagi buru-buru menuding pers sebagai pengganggu.Sabtu (22/8/2026)
Sebab, selama informasi disajikan berdasarkan fakta, data, konfirmasi, dan prinsip keberimbangan, pertanyaan media merupakan bagian dari kontrol sosial.
Ironisnya, masih ada pejabat dan pelaku usaha yang nyaman ketika kamera mengarah untuk memuji, tetapi gelisah ketika mikrofon mulai bertanya.
Seolah-olah berita baik adalah kewajiban, sementara berita kritis dianggap dosa.
Padahal, pejabat menggunakan kewenangan publik dan pengusaha menjalankan aktivitas yang bisa bersinggungan dengan kepentingan masyarakat. Keduanya memiliki tanggung jawab untuk transparan ketika muncul persoalan yang layak diketahui publik.
Pers tidak boleh menjadi alat kekuasaan. Namun pers juga tidak boleh menjadi alat kepentingan.
Tugasnya sederhana tetapi sering terasa berat: mencari fakta, melakukan konfirmasi, lalu menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Jika berita itu keliru, bantah dengan data. Jika ada kekurangan, berikan klarifikasi. Jika kritik terasa pedas, mungkin yang perlu diperiksa bukan rasa pedasnya, melainkan fakta di baliknya.
Karena demokrasi tidak akan sehat jika pejabat hanya ingin dipuji dan pengusaha hanya ingin diberitakan positif.
Pers menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, yang menjamin kemerdekaan pers serta memberikan ruang bagi media untuk mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan informasi kepada masyarakat. Karena itu, pejabat maupun pelaku usaha semestinya memahami bahwa pertanyaan, kritik, dan pemberitaan berbasis fakta merupakan bagian dari mekanisme kontrol sosial dalam negara demokrasi.
Pers bertanya bukan berarti memusuhi. Pers mengkritik bukan berarti membenci. Sebab dalam demokrasi, kekuasaan yang sehat justru tumbuh dari keberanian untuk diawasi.
(Red/Frj)
Editor: Sofid











