Kenalkan Potensi Bahan Lokal:
Mahasiswa KKN-T 102 UNDIP Edukasi Pembuatan Obat Kumur bagi Ibu-Ibu PKK Desa Sikunang
Wonosobo
RABN.CO.ID, WONOSOBO – Balqis Auraning Prameswari, mahasiswa KKN-T 102 Universitas Diponegoro (UNDIP) melaksanakan kegiatan edukasi kesehatan gigi dan mulut bagi ibu-ibu PKK Desa Sikunang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Senin 31 Agustus 2026 ini, Kegiatan tersebut mengangkat potensi bahan lokal berupa teh hitam, purwaceng, dan serai sebagai bahan dasar inovasi obat kumur. Sabtu (22/8/2026)
Program tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa menghadirkan pengetahuan akademik yang aplikatif dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Selain memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan gigi dan rongga mulut, kegiatan juga memperkenalkan pemanfaatan bahan-bahan lokal yang tersedia di lingkungan Desa Sikunang.
Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Program Studi Kedokteran Gigi UNDIP, Balqis Auraning Prameswari, menjelaskan bahwa kegiatan dirancang untuk memperkenalkan potensi bahan lokal melalui pendekatan edukasi kesehatan gigi dan mulut.

Masyarakat diharapkan memperoleh wawasan mengenai pemanfaatan bahan tersebut sekaligus memahami penggunaannya secara tepat.
Edukasi diawali dengan penyampaian materi mengenai kebiasaan sederhana dalam menjaga kesehatan gigi dan rongga mulut.
Peserta juga diperkenalkan pada konsep obat kumur sebagai pelengkap dalam menjaga kebersihan rongga mulut, bukan sebagai pengganti kegiatan menyikat gigi maupun pemeriksaan dan perawatan oleh tenaga kesehatan gigi.
Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh penjelasan mengenai bahan, tahapan pengolahan, hingga gambaran penggunaan formulasi obat kumur berbahan teh hitam, purwaceng, dan serai.
Penyampaian dilakukan secara komunikatif melalui materi dan diskusi, sehingga peserta dapat memahami fungsi serta penggunaan bahan secara lebih tepat.
Antusiasme ibu-ibu PKK terlihat dari aktifnya peserta dalam mengikuti pembahasan dan mengajukan berbagai pertanyaan. Interaksi tersebut menunjukkan ketertarikan masyarakat terhadap informasi kesehatan gigi dan mulut yang dikaitkan dengan pemanfaatan sumber daya lokal.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menghubungkan ilmu kedokteran gigi dengan potensi yang dimiliki masyarakat.
Pemanfaatan teh hitam, purwaceng, dan serai diperkenalkan sebagai bentuk inovasi edukatif berbasis bahan lokal yang masih terbuka untuk dikembangkan melalui penelitian lebih lanjut.
Mahasiswa menekankan bahwa formulasi obat kumur yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut masih berada dalam konteks edukasi dan inovasi berbasis bahan lokal. Pengembangan lebih lanjut tetap memerlukan pengujian komprehensif untuk mengetahui karakteristik, keamanan, stabilitas, serta efektivitas formulasi.
Melalui program KKN-T 102 UNDIP ini, mahasiswa berharap masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK Desa Sikunang, semakin memahami pentingnya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut sekaligus mengenal potensi bahan lokal di sekitarnya.
Kegiatan tersebut menjadi wujud kontribusi mahasiswa UNDIP dalam membawa pengetahuan akademik lebih dekat kepada masyarakat, sekaligus mendorong lahirnya inovasi berbasis potensi lokal melalui pendekatan yang sederhana, edukatif, dan berkelanjutan.
(Red/KA)
Editor: Sofid











