BABAD SANG PATIH: DARI SAKIT HATI MENUJU SINGGASANA
RABN.CO.ID, PEMALANG – Konon, pada zaman dahulu berdirilah sebuah kerajaan besar di tanah Jawa. Kerajaan itu dipimpin Prabu Winom Jayengrat, seorang raja yang disegani. Namun di balik ketenteraman istana, diam-diam tumbuh perebutan kekuasaan yang kelak mengguncang singgasana.(28/9/2026)
Di sisi raja berdiri Arya Wanglesadipa, sang patih. Pangkatnya tinggi, tetapi ambisinya lebih tinggi daripada kedudukannya. Ia merasa dirinya paling pantas memegang kendali kerajaan. Ketika beberapa urusan penting tidak dipercayakan kepadanya, sakit hati mulai bersemi.
“Jika aku hanya menjadi patih, sampai kapan aku akan berada di bawah bayang-bayang raja?” demikian gumamnya.
Sejak saat itu, Wanglesadipa mulai mengumpulkan kekuatan. Ia mendekati bangsawan yang kecewa, punggawa yang merasa tidak mendapat tempat, serta orang-orang istana yang mudah dipengaruhi. Kepada mereka ia menjanjikan kedudukan dan pengaruh apabila kelak berada di singgasana.
Istana pun terbelah.
Di satu sisi berdiri para pendukung Prabu Winom Jayengrat. Di sisi lain, perlahan terbentuk kelompok yang diam-diam mengusung sang patih. Tidak ada perang terbuka, tetapi perang pengaruh berlangsung setiap hari.
Wanglesadipa memainkan siasatnya dengan sabar. Keberhasilan kerajaan diklaim sebagai hasil kerja para punggawa, sedangkan setiap kegagalan diarahkan kepada raja. Kabar-kabar yang belum tentu benar dibisikkan dari satu pendopo ke pendopo lainnya.
“Raja telah kehilangan kewibawaannya,” bisiknya kepada para bangsawan.
“Kerajaan membutuhkan pemimpin baru.”
Fitnah menjadi senjata, kesetiaan menjadi barang yang dipertukarkan, dan jabatan menjadi alat untuk membeli dukungan.
Hingga suatu hari, kegaduhan besar mengguncang kerajaan. Di tengah lemahnya kepercayaan sebagian bangsawan kepada raja, Wanglesadipa tampil sebagai satu-satunya orang yang mengaku mampu menyelamatkan kerajaan.
Ia menghadap Prabu Winom Jayengrat.
“Paduka, demi keselamatan kerajaan, serahkan urusan pemerintahan kepada hamba.”
Sang raja menatap patihnya. Saat itu ia menyadari bahwa orang yang selama ini berdiri paling dekat dengan singgasana justru telah menjadi ancaman terbesar.
Namun keadaan telah berubah. Dukungan istana terpecah. Sebagian bangsawan menarik kesetiaan mereka. Tekanan semakin kuat hingga akhirnya Prabu Winom Jayengrat tersingkir dari singgasana.
Hari itu dicatat dalam babad sebagai hari ketika seorang patih merebut mahkota dari rajanya sendiri.
Wanglesadipa pun dinobatkan menjadi raja.
Genderang dipukul. Panji kerajaan dikibarkan. Para pendukungnya bersorak. Sang patih tersenyum ketika mahkota diletakkan di kepalanya.
Ia telah memenangkan perebutan takhta.
Tetapi ia belum memenangkan hati rakyat.
Tidak lama kemudian, kenyataan mulai menghantam istana. Urusan kerajaan menumpuk. Para pejabat menunggu keputusan. Rakyat menunggu kepastian. Kerajaan yang dahulu tampak kokoh mulai kehilangan arah.
Wanglesadipa baru menyadari bahwa merebut singgasana adalah satu perkara, sedangkan mempertahankan kerajaan adalah perkara yang sama sekali berbeda.
Pada suatu malam, seorang abdi tua berkata kepadanya,
“Paduka telah berhasil merebut takhta dari tangan seorang raja. Tetapi apakah Paduka mampu merebut kembali kepercayaan rakyat?”
Wanglesadipa terdiam.
Pertanyaan itu terasa lebih tajam daripada keris.
Sejak saat itu, kisah Arya Wanglesadipa dikenang sebagai legenda tentang patih yang mengubah sakit hati menjadi ambisi, ambisi menjadi pengkhianatan, dan pengkhianatan menjadi perebutan takhta.
Namun babad itu juga meninggalkan pesan: mahkota dapat direbut dengan kekuatan dan siasat, tetapi kewibawaan tidak dapat diwariskan oleh mahkota. Ia harus diperoleh melalui kemampuan, kejujuran, kebijaksanaan, dan amanah bukan tebar pesona.
Sebab, siapa pun dapat mengejar singgasana. Tetapi tidak setiap orang yang berhasil mendudukinya mampu menjadi raja.
(Red/Frj)
Editor: Sofid











