Surya Sosok Pemilah Sampah Jadi Kades: Bukti Modal Sosial Mampu Tumbangkan Politik Uang
RABN.CO.ID, PEMALANG – Sebuah kisah yang ramai diperbincangkan di media sosial menarik perhatian publik. Narasi bahwa politik berbiaya tinggi (high-cost politics) menjadi syarat mutlak untuk meraih kekuasaan, dipatahkan dalam kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Mekarwangi, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi,menjadi sorotan warganet.(29/9/2026)
Surya (46), seorang pekerja pemilah sampah buangan pabrik, secara mengejutkan berhasil mengungguli calon petahana dan terpilih menjadi Kepala Desa. Kemenangan tersebut menjadi fenomena menarik dalam dinamika demokrasi lokal, sekaligus menunjukkan bahwa legitimasi masyarakat di tingkat akar rumput (grassroots) dapat dibangun tanpa semata-mata mengandalkan kekuatan finansial.
*Modal Sosial Mengungguli Modal Finansial*
Kemenangan figur berlatar belakang ekonomi sederhana di tengah kontestasi yang melibatkan calon dengan modal besar memperlihatkan sejumlah dinamika penting dalam politik desa.
*Pertama, efektivitas politik uang.*
Fenomena tersebut dapat dibaca sebagai indikasi perubahan perilaku pemilih. Praktik transaksional mungkin masih mewarnai kontestasi, tetapi pemberian materi tidak selalu menentukan pilihan akhir pemilih. Rekam jejak, kedekatan dan kepercayaan tetap menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan di tempat pemungutan suara.
*Kedua, kekuatan modal sosial.*
Dalam perspektif sosiologi Pierre Bourdieu, modal sosial mencakup jaringan hubungan, interaksi, kepedulian sosial serta kepercayaan (trust). Konsistensi seseorang dalam berinteraksi dan hadir di tengah persoalan masyarakat dapat membentuk legitimasi sosial yang tidak selalu dapat dibangun melalui kampanye berbiaya besar.
Dalam konteks Surya, kehidupan sebagai pekerja pemilah sampah CV menempatkannya dekat dengan realitas keseharian masyarakat. Kedekatan tersebut menjadi bagian dari pengalaman sosial yang membentuk persepsi dan kepercayaan warga.
*Ketiga, sentimen terhadap elite lokal.*
Dukungan kepada figur dari kalangan masyarakat biasa juga dapat dibaca sebagai bentuk ekspresi politik warga terhadap pola kepemimpinan yang dianggap berjarak atau kurang responsif. Figur ordinary citizen kemudian tampil sebagai simbol kedekatan dan kesederhanaan dalam kepemimpinan desa.
*Keempat, otentisitas dan kedekatan emosional.*
Politik desa memiliki karakter berbeda karena hubungan antara pemilih dan calon berlangsung sangat dekat. Warga mengenal kehidupan calon bukan hanya melalui baliho, spanduk atau atribut kampanye, tetapi juga melalui interaksi sosial sehari-hari.
Kisah Surya dari Cikarang Barat pada akhirnya menghadirkan pesan penting bagi demokrasi di tingkat akar rumput. Keterbatasan ekonomi tidak otomatis menutup jalan seseorang untuk memperoleh kepercayaan masyarakat.
Ketika modal sosial tumbuh dari kerja, kepedulian dan interaksi yang berlangsung terus-menerus, narasi bahwa “tanpa uang tidak mungkin menang” setidaknya menemukan sebuah pengecualian nyata di tingkat desa.
*Demokrasi pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa besar biaya yang dikeluarkan untuk meraih kekuasaan, tetapi juga tentang seberapa kuat kepercayaan yang berhasil dibangun bersama masyarakat.*
*(Red/Frj)*
*Editor: Sofid*











