Makam Sepuh Mbah Sumantri “Mbah Togog” di Kebon Gede Bantarbolang Sering Diziarahi-Warga Masih Jaga Tradisi Leluhur
RABN.CO.ID, PEMALANG – Keberadaan makam sepuh yang diyakini sebagai makam Mbah Sumantri atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan “Mbah Togog” di Desa Kebon Gede, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, hingga kini masih menjadi tujuan ziarah bagi masyarakat dari berbagai daerah.Senin (9/3/2026)
Makam sepuh tersebut tidak hanya didatangi warga sekitar, tetapi juga peziarah dari luar kota yang datang untuk berdoa serta mencari ketenangan batin.
Karsadi, yang dipercaya sebagai juru kunci atau juru makam, mengatakan bahwa hampir setiap waktu selalu ada peziarah yang datang. Mereka biasanya berdoa, memanjatkan harapan, serta mengenang sosok Mbah Sumantri yang diyakini masyarakat sebagai tokoh sepuh yang memiliki nilai spiritual dan sejarah di wilayah tersebut.
Menurut Karsadi, keberadaan makam Mbah Togog sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat setempat. Tradisi ziarah di tempat tersebut pun telah berlangsung turun-temurun.
Banyak peziarah datang dengan niat berdoa, memohon keselamatan, kelancaran rezeki, maupun ketenangan dalam menjalani kehidupan.
“Sering ada peziarah dari luar kota datang ke sini. Tidak hanya warga Desa Kebon Gede saja, tapi juga dari daerah lain di Pemalang bahkan luar daerah. Biasanya mereka berdoa dan berziarah dengan tenang,” ujar Karsadi.
Selain dikenal sebagai tempat ziarah, masyarakat sekitar juga masih memegang teguh sejumlah pantangan atau kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun terkait makam tersebut.
Salah satu yang paling dikenal adalah larangan menggelar pertunjukan wayang kulit saat hajatan di wilayah tertentu yang masih berkaitan dengan lokasi makam Sumantri atau Mbah Togog.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, jika larangan tersebut dilanggar, konon sering terjadi kejadian tidak biasa.
Warga setempat meyakini bahwa pernah beberapa kali muncul angin kencang atau angin beliung saat ada warga yang nekat menggelar pertunjukan wayang kulit dalam acara hajatan.
Cerita tersebut sudah lama menjadi bagian dari kisah lisan masyarakat Desa Kebon Gede. Karena itulah hingga sekarang sebagian warga memilih untuk menghormati tradisi tersebut dengan tidak mengadakan pertunjukan wayang kulit saat menggelar hajatan.
“Kata orang-orang tua dulu, kalau ada yang mengadakan wayang kulit saat hajatan di wilayah tertentu, sering muncul angin kencang. Cerita itu sudah turun-temurun, jadi warga biasanya memilih menghormati pesan leluhur,” jelas Karsadi.
Meski demikian, masyarakat setempat tetap memandang keberadaan makam Mbah Togog sebagai bagian dari warisan budaya dan sejarah desa yang perlu dijaga. Tradisi ziarah serta cerita-cerita yang berkembang di sekitar makam tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang memperkaya nilai budaya masyarakat.
Selain itu, warga sekitar juga terus berupaya menjaga kebersihan dan kelestarian area makam agar tetap nyaman bagi para peziarah yang datang. Lingkungan makam yang berada di kawasan pedesaan yang tenang membuat suasana ziarah terasa lebih khusyuk dan damai.
Bagi sebagian masyarakat, ziarah ke makam tokoh sepuh seperti Mbah Togog tidak hanya sekadar tradisi, tetapi juga menjadi sarana untuk mengingat sejarah, menghormati leluhur, serta memperkuat nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan tetap terjaganya tradisi dan cerita yang berkembang di masyarakat, makam Mbah Sumantri atau Mbah Togog di Desa Kebon Gede Kecamatan Bantarbolang Kabupaten Pemalang, hingga kini masih menjadi salah satu lokasi ziarah yang dikenal masyarakat di wilayah Kabupaten Pemalang, sekaligus menjadi bagian dari warisan budaya lokal yang terus dilestarikan oleh warga setempat.
(Red/Nurajab)
Editor:Sofid











