Hotel Moga Indah di Pemalang: Proyek Warisan Yang Mati Suri, Berdiri Megah Bagai Rumah Vampir
RABN.CO.ID, PEMALANG – Di Kabupaten Pemalang, berdiri sebuah bangunan yang mungkin tidak akan masuk daftar destinasi wisata unggulan, tetapi layak dicatat sebagai monumen sunyi kegagalan birokrasi. Namanya Hotel Moga Indah. Dari luar tampak megah. Dari jauh terlihat menjanjikan. Tetapi ketika didekati, bangunan itu justru memancarkan ironi: besar, dingin, sepi, seperti rumah vampir yang diam-diam menghisap uang rakyat tanpa pernah benar-benar hidup.
Awak media yang turun langsung ke lokasi mendapati bangunan besar itu berdiri gagah, tetapi terasa asing dari denyut kehidupan.Selasa (12/5/2026)
Hotel itu bukan milik konglomerat, bukan pula investasi swasta yang gagal membaca pasar. Ia adalah aset pemerintah daerah. Artinya jelas: ada APBD di sana, ada uang rakyat yang tertanam di setiap tembok, aula, dan kamar-kamarnya.

Informasi yang beredar menyebut proyek itu diduga menelan anggaran hampir Rp27 miliar. Angka yang bagi rakyat kecil terasa fantastis, terlebih ketika hasil akhirnya justru tampak seperti bangunan kehilangan nyawa.
Di sinilah absurditas pembangunan daerah sering dipertontonkan. Negara merasa berhasil hanya karena bangunan selesai didirikan. Seolah keberhasilan pembangunan berhenti pada seremoni gunting pita, baliho ucapan selamat, dan foto pejabat yang tersenyum di depan kamera. Setelah itu? Sunyi. Fungsi hilang. Manfaat kabur. Yang tersisa hanya beton mahal dan laporan administratif yang dipoles seolah sukses besar.
Hotel Moga Indah seperti cermin telanjang birokrasi: gemar membangun simbol, tetapi malas membangun sistem.

Gedung dibuat megah, narasi wisata dijual ke publik, tetapi setelah tepuk tangan peresmian usai, pemerintah tampak kehilangan akal untuk menghidupkan proyeknya sendiri.
Pertanyaan mendasarnya sederhana, tetapi justru tak pernah dijawab terang-benderang: siapa yang menghitung kelayakan bisnisnya? Siapa yang membaca potensi pasarnya? Dan siapa yang menjamin hotel itu mampu bertahan sebagai usaha, bukan sekadar pajangan proyek kekuasaan?
Karena kalau sejak awal perencanaannya matang, sulit diterima akal sehat bahwa hotel di kawasan strategis dekat wisata justru seperti kehilangan denyut ekonomi.
Ironisnya lagi, penginapan kecil milik warga di sekitar Moga masih mampu bertahan dengan fasilitas seadanya. Sementara hotel pemerintah bernilai puluhan miliar justru tampak limbung. Ini tamparan keras bagi birokrasi: kadang rakyat kecil lebih paham cara bertahan hidup dibanding pejabat yang sibuk membuat laporan keberhasilan.
Hotel Moga Indah memang warisan pemerintahan sebelumnya. Tetapi rakyat tidak hidup dari alasan politik.
Publik tidak peduli proyek itu lahir di era siapa. Ketika uangnya berasal dari APBD, maka tanggung jawabnya tetap milik pemerintah hari ini.
Uang rakyat tidak boleh diperlakukan seperti eksperimen politik gagal yang setelah runtuh lalu diwariskan begitu saja.
Sayangnya, budaya birokrasi kita sering absurd. Pemerintahan lama meninggalkan masalah, pemerintahan baru sibuk mencari jarak agar tidak ikut disalahkan.
Akibatnya bangunan mangkrak berubah menjadi artefak kebodohan administratif. Yang berganti hanya nama pejabatnya, sementara proyek gagalnya tetap berdiri tegak.
Kini DPRD yang membidangi harus respon cepat dengan kondisi Hotel Moga Indah. Namun publik sudah terlalu sering mendengar kalimat normatif seperti “akan dievaluasi”, “akan dikaji”, atau “akan dicari solusi”. Bahasa birokrasi memang selalu terdengar sopan, tetapi sering kali hanya cara halus untuk menunda keberanian mengambil keputusan.
Padahal rakyat hanya ingin jawaban jujur: apakah proyek ini sejak awal salah hitung? Apakah ada kegagalan manajemen? Ataukah pembangunan ini memang lebih sibuk mengejar pencitraan dibanding memikirkan keberlanjutan?
Karena jika bangunan sebesar itu akhirnya hanya menjadi rumah sunyi tanpa aktivitas, maka yang mati bukan sekadar hotelnya. Yang ikut mati adalah kepercayaan publik.
Dan kepercayaan rakyat jauh lebih mahal daripada Rp27 miliar.
Hotel Moga yang di resmikan Februari 2021 silam Namun beberapa tahun berlalu, yang tersisa justru ironi. Hotel dengan 36 kamar, aula pertemuan, dan fasilitas representatif di kawasan strategis Moga kini dikabarkan mati suri. Bangunan besar itu berdiri sunyi di tengah jalur wisata dan pusat ekonomi masyarakat—seolah menjadi monumen beton dari ambisi politik yang kehabisan napas.
Hari ini Hotel Moga Indah bukan sekadar bangunan kosong. Ia telah berubah menjadi metafora tentang cara kekuasaan bekerja: membangun cepat untuk dipamerkan, lalu gagap ketika harus mempertanggungjawabkan hasilnya.
Bangunan itu berdiri diam seperti rumah vampir birokrasi — dingin, sunyi, dan terus mengingatkan rakyat bahwa sebagian proyek pemerintah kadang lebih pandai menghabiskan anggaran daripada menghasilkan kesejahteraan.
Mungkin benar, Hotel Moga Indah kini lebih cocok dijadikan lokasi uji nyali atau rumah “uka-uka” birokrasi. Karena di sana rakyat bisa melihat langsung bagaimana uang publik masuk dengan megah, lalu menghilang tanpa jejak manfaat yang jelas.
(Red/Frj)
Editor:Sofid











