Dari Korps Marinir ke Dunia Profesional, Sutarno Lanjutkan Pengabdian di Masa Purna
RABN.CO.ID, LAMONGAN – Masa purna tugas bukan akhir dari pengabdian seorang prajurit, melainkan tahap baru untuk mengaktualisasikan pengalaman, kedisiplinan, dan kepemimpinan di tengah masyarakat. Semangat tersebut tercermin dari kiprah Sutarno, mantan anggota Korps Marinir, yang tetap aktif berkarya setelah menyelesaikan masa dinasnya.Senin (10/8/2026)
Berbekal pengalaman panjang selama masih aktif di satuan, Sutarno mampu membangun dan membina ratusan personel security pada salah satu perusahaan ternama di wilayah Lamongan.
Ia menuangkan tenaga, pikiran, serta nilai-nilai kemiliteran—kedisiplinan, tanggung jawab, loyalitas, ketegasan, dan kepemimpinan—dalam membentuk tenaga pengamanan yang profesional.

Dari Satuan ke Masyarakat
Pengalaman sebagai prajurit Marinir menjadi modal penting bagi Sutarno dalam menjalankan tugas pembinaan. Ia tidak hanya menekankan aspek fisik dan ketertiban, tetapi juga mengedepankan etika pelayanan, kesiapsiagaan, komunikasi, serta kemampuan mengambil keputusan secara tepat.
Di bawah pembinaannya, para personel security diarahkan agar memahami bahwa tugas pengamanan bukan sekadar menjaga lingkungan kerja. Mereka juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan rasa aman, membantu menciptakan suasana tertib, dan menjaga nama baik perusahaan.

Keteladanan Prajurit Purna
Kisah Sutarno menunjukkan bahwa seorang prajurit yang memasuki masa purna tetap dapat memberikan kontribusi nyata. Nilai pengabdian, profesionalisme, serta tanggung jawab sosial dapat terus diwujudkan melalui berbagai bidang kehidupan. Prinsip profesionalisme TNI menekankan pentingnya prajurit yang terlatih, terdidik, berintegritas, dan mengabdi kepada kepentingan bangsa serta masyarakat
Masa purna juga bukan alasan untuk berhenti berkarya. Justru pada tahap ini, pengalaman yang telah diperoleh selama berdinas dapat diwariskan kepada generasi berikutnya melalui pembinaan, pendidikan, pelatihan, dan kepemimpinan di lingkungan kerja.
Inspirasi bagi Prajurit Purna
Perjalanan Sutarno menjadi contoh bahwa keberhasilan setelah pensiun tidak selalu diukur dari jabatan, tetapi dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada orang lain. Kemampuannya membina ratusan security membuktikan bahwa pengalaman prajurit tetap relevan dan dibutuhkan dalam dunia profesional.
Purna tugas bukan purna pengabdian. Selama masih memiliki tenaga, pengetahuan, dan semangat untuk berbagi, seorang mantan prajurit tetap dapat menjadi penggerak kedisiplinan, pembentuk karakter, serta teladan bagi masyarakat. Langkah Sutarno di Lamongan menjadi gambaran bahwa pengabdian dapat terus berlanjut dalam bentuk yang berbeda, dengan semangat yang tetap sama: bekerja dengan loyalitas, integritas, dan tanggung jawab.Pungkasnya
(Red/Frj)
Editor: Sofid











