News

Khrisna Agung Pilih Mengabdi di Tengah Liburan, Mahasiswa UMS Bergabung dalam Gerakan Mengajar Desa

×

Khrisna Agung Pilih Mengabdi di Tengah Liburan, Mahasiswa UMS Bergabung dalam Gerakan Mengajar Desa

Sebarkan artikel ini

Khrisna Agung Pilih Mengabdi di Tengah Liburan, Mahasiswa UMS Bergabung dalam Gerakan Mengajar Desa

RABN.CO.ID, SEMARANG – Libur kuliah bagi sebagian mahasiswa menjadi waktu untuk beristirahat. Namun, Khrisna Agung, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), memilih jalan berbeda. Masa libur dimanfaatkannya untuk terjun langsung ke tengah masyarakat dengan bergabung sebagai relawan Gerakan Mengajar Desa (GMD) di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.Senin (10/8/2026)

Langkah tersebut menjadi bagian dari gerakan kepemudaan yang menempatkan pendidikan sebagai pintu masuk pengabdian masyarakat. Khrisna tidak hanya membawa pengetahuan dari bangku perguruan tinggi, tetapi juga menghadirkan waktu, tenaga, dan kepedulian untuk membantu anak-anak di wilayah perdesaan memperoleh pendampingan belajar.

Gerakan Mengajar Desa sendiri terus berkembang sejak dirintis Gardian Muhammad Abdullah bersama sejumlah rekannya di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada September 2018. Berangkat dari keprihatinan terhadap kesenjangan pendidikan di desa, GMD kemudian berkembang menjadi jaringan relawan pendidikan yang kini memiliki lebih dari 19.000 anggota di 25 provinsi.

Pada masa awal berdiri, sekitar 700 orang dari 32 kecamatan di Cianjur tercatat mendaftarkan diri sebagai relawan hanya dalam tujuh hari. Antusiasme tersebut menjadi fondasi bagi perluasan gerakan ke berbagai wilayah Indonesia.

GMD tidak berhenti pada aktivitas mengajar di ruang kelas. Relawan turut menjadi pendamping bagi siswa, membantu menyediakan buku dan perlengkapan belajar, serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik.

Bagi generasi muda, keterlibatan dalam gerakan semacam ini juga menjadi ruang pembelajaran sosial. Relawan berhadapan langsung dengan beragam persoalan masyarakat, sekaligus belajar membangun komunikasi, kepemimpinan, solidaritas, dan kemampuan memecahkan masalah.

Kehadiran mahasiswa seperti Khrisna menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu harus menunggu seseorang menyandang gelar atau menduduki jabatan. Dari bangku kuliah pun, kontribusi terhadap masyarakat dapat dimulai dengan langkah sederhana: hadir, berbagi pengetahuan, dan bersedia mendampingi mereka yang membutuhkan.

Di tengah tantangan pemerataan pendidikan, gerakan kerelawanan seperti GMD menjadi energi sosial yang patut diapresiasi. Meski demikian, keberadaan relawan tetap tidak menggantikan tanggung jawab negara dalam menjamin pemerataan guru, fasilitas pendidikan, serta kualitas pembelajaran.

Pada akhirnya, kisah Khrisna bukan sekadar cerita seorang mahasiswa yang mengisi liburan. Ia menjadi gambaran kecil tentang bagaimana energi anak muda dapat diarahkan menjadi kekuatan sosial.

Menurut Khrisna Agung, pendidikan di Indonesia tidak hanya dibangun dari gedung sekolah dan kebijakan pemerintah. Ia juga tumbuh dari kepedulian orang-orang yang bersedia datang ke desa, membuka buku, mendampingi anak-anak belajar, dan mengatakan kepada mereka bahwa masa depan tetap layak diperjuangkan.Tutupnya

(Red/Frj)
Editor: Sofid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *