Ketika Setia Hati Memanggil, Ratusan Warga SH Terate Cabang Pemalang Pusat Madiun Menjawab dengan Pengabdian
RABN.CO.ID, MADIUN – 25 September 2026 — Tidak semua perjalanan berangkat karena kepentingan pribadi. Sebagian lahir dari panggilan pengabdian. Ketika Setia Hati memanggil, ratusan warga SH Terate Cabang Pemalang Pusat Madiun menempuh perjalanan menuju Padepokan Agung Madiun (PAM),Jalan Merak 10. Kamis, 24 September 2026.
Dari berbagai ranting se-Kabupaten Pemalang, mereka datang membawa semangat persaudaraan sekaligus amanah organisasi.
Di bawah komando Ketua Cabang SH Terate Cabang Pemalang Pusat Madiun , Slamet Efendi, bersama jajaran senior tingkat dua dan pengurus mengambil bagian dalam rangkaian kegiatan serta pengamanan Padepokan Agung Madiun (PAM).

Sesampainya di Madiun, warga SH Terate Cabang Pemalang berbaur dengan ribuan warga SH Terate dari berbagai cabang di Indonesia.
Mereka datang dari daerah yang berbeda, menempuh jarak yang tidak sama, tetapi bertemu dalam satu ruang persaudaraan.
Padepokan Agung Madiun menjadi titik temu yang memperlihatkan bagaimana keberagaman dapat dipersatukan melalui semangat persaudaraan. Kebersamaan tersebut diharapkan tetap diwujudkan dalam sikap tertib, disiplin, damai dan bermartabat.
Dalam pelaksanaan tugas, warga SH Terate ditekankan memegang satu komando, menjaga disiplin serta mengedepankan tanggung jawab. Kehadiran mereka bukan untuk mempertajam perbedaan, melainkan membantu menciptakan suasana yang aman dan kondusif.

Sementara dinamika terkait agenda Parluh 2026 dan sejumlah pihak yang dikaitkan dengan kelompok JJ pimpinan Taufiq masih menjadi perbincangan. Perbedaan pandangan mengenai prosedur maupun legalitas hendaknya ditempatkan berdasarkan fakta, dokumen resmi, keputusan organisasi dan ketentuan hukum yang berlaku.
Dalam pengamanan Padepokan Agung Madiun (PAM), Pamter SH Terate Cabang Pemalang Pusat Madiun di bawah komando AKBP (Purn.) Puji Purwanto turut berada di garis depan menjalankan tugas. Ketertiban, pengendalian diri dan penghormatan terhadap sesama menjadi bagian penting dalam pelaksanaan pengamanan.
Perjalanan dari Pemalang menuju Madiun pun memiliki makna tersendiri. Waktu, tenaga, jarak dan biaya bukan sesuatu yang dijadikan hitungan ketika panggilan persaudaraan membutuhkan kehadiran. Namun pengabdian tetap harus berjalan bersama kedewasaan dan kepatuhan terhadap hukum.
Sebab persaudaraan tidak hanya diuji ketika semua berjalan searah. Nilainya justru terlihat ketika perbedaan muncul. Menahan emosi, menghormati sesama, menjaga ketertiban dan memilih jalan yang bermartabat adalah bagian dari menjaga marwah persaudaraan.
“Saat Setia Hati memanggilmu, jangan pamrih menghitung rugi.”
Ratusan warga SH Terate Cabang Pemalang Pusat Madiun telah menjawab panggilan itu. Mereka datang bukan sekadar membawa langkah dari sebuah daerah, tetapi membawa pesan bahwa persaudaraan memiliki tanggung jawab untuk menjaga ketenangan.
Setia Hati memanggil, warga menjawab. Jarak ditempuh, amanah dijalankan. Padepokan dijaga, perbedaan diredam. Sebab pada akhirnya, persaudaraan bukan tentang siapa yang paling keras berdiri, tetapi siapa yang mampu tetap menjaga hati ketika keadaan menguji.
(Red/Frj)
Editor: Sofid











