TIGA JUTA TAK MENUTUP LUKA: PLT BUPATI PEMALANG NURKHOLES DITANTANG BERANI EVALUASI KEPALA SEKOLAH!
RABN.CO.ID, PEMALANG – Dua lembar pecahan seratus ribuan dikali lima belas—ya, tiga juta rupiah. Sungguh sebuah kalkulasi “kehadiran negara” yang begitu presisi sekaligus menggelikan. Di Pemalang, nyawa seorang bocah berusia tujuh tahun yang melayang diduga akibat perundungan rupanya cukup dikompensasi dengan angka nominal yang bahkan tak sanggup membeli nurani birokrasi.Minggu (4/10/226)
Tragedi SD Negeri 01 Kebondalem ini memamerkan komedi gelap kekuasaan: ketika anak-anak bertaruh nyawa di bawah pengawasan sistem pendidikan yang tumpul, pejabat publik justru sibuk memoles citra lewat retorika “tidak ada toleransi bagi kekerasan”.
Ini bukan lagi sekadar retorika, tapi kosmetik kebudayaan yang sudah kadaluwarsa. Plt Bupati Nurkholes dan jajaran Dinas Pendidikan tampak mahir berakrobat kata-kata, namun lumpuh ketika dituntut mengambil tindakan konkret seperti memanggil, mengevaluasi, hingga mendemosi kepala sekolah yang gagap mengawasi lingkungannya.

Dugaannya sederhana: ada kegagalan kelembagaan yang kronis. Sekolah mendengungkan kurikulum “pendidikan karakter”, tetapi saat tragedi berdarah terjadi, karakter kepemimpinan para pemangku kebijakannya justru yang pertama kali lenyap ditelan bumi. Pemerintah daerah terlampau cekatan berhitung matematika santunan, namun mendadak pikun jika diajak menghitung bobot tanggung jawab moral dan keadilan.
Uang tiga juta rupiah itu mungkin cukup untuk menutup biaya pemakaman, tetapi rakyat Pemalang tahu betul—uang tidak pernah bisa membeli kembali masa depan seorang anak yang terenggut. Negara tidak boleh terus-menerus bertindak seperti panitia pemakaman yang baru hadir melayat saat jenazah sudah terbujur kaku.
Akal sehat publik kini menagih keberanian Pltl Bupati Pemalang Nurkholes : apakah Nurkholes benar-benar pemimpin yang punya integritas evaluatif, atau sekadar kasir daerah yang pandai membagikan amplop di atas puing-puing keadilan? (Red/RS)
Editor: Sofid











