Di Tengah Agenda Kebangsaan, Hj Rika Apresiasi Batik Tulis “Nyi Pandanaran”, Simbol Budaya yang Mendunia
RABN.CO.ID, SEMARANG – 11 Mei 2026 — Di tengah dinamika pembangunan nasional dan agenda kebangsaan yang padat, perhatian terhadap pelestarian budaya bangsa tetap menjadi bagian penting dalam menjaga identitas Indonesia. Hal itu tercermin saat Hj Rika Mustika bersama Bu Enung menyempatkan diri mengunjungi sentra Batik Tulis “Nyi Pandanaran” (10/5) di kawasan Banaran, Semarang, usai menghadiri silaturahmi kebangsaan Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono di kediaman Jenderal TNI (Purn) Bibit Waluyo, di Magelang Jawa Tengah.
Kunjungan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap keberlangsungan batik tulis tradisional Jawa Tengah yang hingga kini tetap bertahan dan berkembang di tengah arus modernisasi industri fesyen nasional maupun global. Di lokasi tersebut, Hj Rika Mustika dan Bu Enung melihat langsung proses membatik menggunakan canting tradisional yang dikerjakan secara manual oleh para perajin Batik Tulis Gumawang “Nyi Pandanaran”.

Dengan penuh perhatian, keduanya berdialog langsung denganpengrajin mengenai filosofi motif, proses pewarnaan, hingga tantangan mempertahankan eksistensi batik tulis di tengah persaingan industri modern. Mereka menilai Batik Tulis “Nyi Pandanaran” bukan sekadar produk sandang, melainkan representasi identitas budaya dan kekuatan kearifan lokal yang memiliki nilai historis tinggi.
Batik Tulis Gumawang “Nyi Pandanaran” sendiri kini berkembang menjadi salah satu magnet wisata budaya di Jawa Tengah. Keunikan motif, detail pengerjaan, serta filosofi yang melekat di setiap lembar kain menjadikan batik ini diminati wisatawan lokal hingga mancanegara.
Tidak sedikit wisatawan datang langsung ke sentra batik untuk menyaksikan proses pembuatan secara tradisional sekaligus mempelajari makna budaya yang terkandung di dalamnya.
Wisatawan domestik dari berbagai daerah tercatat rutin mengunjungi sentra batik tersebut, termasuk pengunjung asal Tasikmalaya, Jawa Barat, yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap warisan budaya Nusantara. Sementara wisatawan asing tertarik pada nilai artistik, penggunaan warna alami, serta karakter eksklusif dari setiap karya batik tulis yang dihasilkan.
Menurut Dewi, salah satu pengelola Batik Tulis “Nyi Pandanaran”, batik khas Gumawang tersebut sejatinya telah lama mendapat tempat di lingkungan pemerintahan. Ia menjelaskan bahwa motif “Nyi Pandanaran” digunakan sebagai seragam resmi di lingkungan ASN Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sejumlah pemerintah kabupaten, hingga Pemerintah Kota Semarang.
“Kami bersyukur batik ini dipercaya menjadi bagian dari identitas budaya di lingkungan pemerintahan. Itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi para perajin,” ujar Dewi.
Ia menambahkan, seluruh proses produksi masih mempertahankan teknik tradisional menggunakan canting manual yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi. Dalam sehari, seorang perajin rata-rata hanya mampu menghasilkan satu lembar kain batik, tergantung tingkat kerumitan motif dan detail pengerjaan.
“Karena semuanya dikerjakan manual, setiap kain memiliki karakter dan nilai seni yang berbeda,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Hj Rika Mustika menilai keberadaan Batik Tulis “Nyi Pandanaran” menjadi bukti bahwa budaya lokal mampu bertahan sekaligus menjadi bagian penting dalam penguatan ekonomi kreatif nasional.Menurutnya, pelestarian budaya tidak boleh terpisah dari pembangunan bangsa.
Sementara itu, Bu Enung, mengaku sangat terkesan setelah menyaksikan langsung proses membatik menggunakan canting tradisional. Ia menilai batik tulis merupakan simbol ketekunan dan warisan budaya luhur yang harus terus dijaga lintas generasi.
“Setelah melihat langsung proses membatik tulis dengan canting, saya semakin memahami bahwa ini bukan sekadar kain, tetapi identitas bangsa. Di setiap goresan canting ada sejarah, kesabaran, dan kecintaan terhadap budaya Indonesia,” ungkapnya
Ia juga menegaskan bahwa seluruh sentra batik di Indonesia, termasuk Batik Gumawang maupun Batik Trusmi Cirebon, memiliki kekuatan budaya yang harus dijaga bersama agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Kini, Batik Tulis Gumawang “Nyi Pandanaran” tidak hanya tumbuh sebagai pusat ekonomi kreatif masyarakat, tetapi juga menjadi ruang diplomasi budaya yang mempertemukan tradisi lokal dengan apresiasi global. Dari tangan-tangan perajin desa, lahir karya budaya yang terus menjaga harum nama Indonesia di mata dunia.
“Batik adalah warisan budaya luhur bangsa. Di setiap goresan canting ada nilai sejarah, kesabaran, dan cinta terhadap tradisi. Kalau bukan kita yang menjaga, lalu siapa lagi,” ujar Hj Rika Mustika dengan penuh haru.Tutupnya
(Red/Frj)
Editor:Sofid











