Ratusan Warga Padati Pagelaran Sintren 40 Hari di Pemalang, Warisan Budaya Sulasih-Sulandono Kembali Menggema
RABN.CO.ID, PEMALANG – Ratusan warga Desa Mengori, Dusun Kebantalan RT 04 RW 04, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang, memadati lokasi pagelaran seni Sintren Pemalangan yang digelar oleh Sanggar Seni Reksa Budaya Mengori, Sabtu (16/5/2026) malam.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi pada malam terakhir pertunjukan yang telah berlangsung selama 40 hari berturut-turut tersebut.
Sejak sore hari, masyarakat dari berbagai usia mulai berdatangan untuk menyaksikan salah satu kesenian tradisional khas Pemalang yang hingga kini masih bertahan di tengah arus modernisasi.
Sorak penonton pecah saat para penari sintren mulai memasuki arena pertunjukan dengan iringan musik tradisional dan lantunan tembang khas Jawa pesisiran.

Ketua Sanggar Seni Reksa Budaya Mengori menyampaikan, pagelaran ini bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan bentuk nyata pelestarian budaya leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.
“Sintren bukan hanya pertunjukan seni, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Pantura yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya.
Jejak Historis Sintren Sulasih-Sulandono
Kesenian Sintren memiliki akar sejarah panjang di wilayah pesisir utara Jawa, mulai dari Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan hingga Kendal.
Dalam tradisi masyarakat Pantura, kisah Sintren erat kaitannya dengan legenda cinta antara Sulasih dan Sulandono.
Cerita rakyat tersebut mengisahkan perjalanan cinta yang penuh ujian dan pengorbanan.
Dari kisah itulah lahir simbolisasi spiritual dan nilai kehidupan manusia yang kemudian diwujudkan dalam pertunjukan sintren.
Dalam pagelaran tradisional, penari sintren biasanya tampil dalam kondisi khusus yang menggambarkan perpaduan unsur seni tari, musik, magis, serta filosofi kehidupan masyarakat pesisir. Karena itu, sintren bukan hanya dipandang sebagai hiburan, tetapi juga media penyampai pesan moral, spiritual, dan budaya.
Budayawan Pantura menyebut, keberadaan sintren saat ini menghadapi tantangan besar akibat perkembangan hiburan modern dan minimnya regenerasi pelaku seni tradisional.
Menjaga Warisan Leluhur
Pagelaran selama 40 hari di Desa Mengori menjadi bukti bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian terhadap warisan budaya daerah.
Kehadiran anak-anak muda dalam pertunjukan tersebut dinilai menjadi harapan baru bagi keberlangsungan kesenian sintren di masa mendatang.
Warga berharap pemerintah daerah maupun pegiat budaya dapat terus mendukung pelestarian seni tradisional melalui festival budaya, pendidikan seni di sekolah, hingga pembinaan sanggar-sanggar desa.
“Sintren adalah warisan budaya adiluhung. Kalau bukan kita yang nguri-uri, siapa lagi,” kata salah satu tokoh masyarakat setempat.
Di tengah gemerlap budaya modern, suara gamelan dan lantunan tembang sintren di Desa Mengori malam itu menjadi pengingat bahwa tradisi leluhur tetap hidup di hati masyarakat Pantura — diwariskan lintas generasi sebagai bagian penting dari jati diri budaya bangsa.
(Red/RS)
Editor : Sofied.











