News

Maulid Nabi Muhammad SAW 2026, Ketika Cinta kepada Rasul Diuji

×

Maulid Nabi Muhammad SAW 2026, Ketika Cinta kepada Rasul Diuji

Sebarkan artikel ini

Maulid Nabi Muhammad SAW 2026, Ketika Cinta kepada Rasul Diuji

RABN.CO.ID JAKARTA – Umat Islam kembali menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Tahun ini, 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah diperkirakan bertepatan dengan Selasa, 25 Agustus 2026. Penanggalan tersebut masih dapat berbeda bergantung pada lokasi serta penetapan awal bulan Rabiul Awal.(24/8/26).

Maulid Nabi bukan sekadar penanda kelahiran seorang tokoh besar dalam sejarah Islam. Ia menjadi momentum untuk mengingat kembali ajaran, akhlak, dan keteladanan Muhammad SAW dalam membangun kehidupan masyarakat.

Rabiul Awal merupakan bulan ketiga dalam kalender Hijriah dan secara tradisi dikenal sebagai bulan yang berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Namun, terdapat perbedaan pendapat mengenai tanggal pasti kelahiran beliau. Di sejumlah negara, termasuk kawasan Asia Tenggara, 12 Rabiul Awal banyak diperingati sebagai Maulid Nabi.

Bukan Sekadar Perayaan

Peringatan Maulid Nabi selama ini hadir dalam beragam bentuk. Dari pengajian, pembacaan sholawat, kajian sejarah Nabi, hingga kegiatan sosial dan kebersamaan di lingkungan masyarakat.

Namun, pertanyaan yang lebih penting justru muncul setelah acara selesai: sejauh mana kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW diterjemahkan menjadi perilaku sehari-hari?
Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang menjadi teladan dalam kehidupan umat Islam. Al-Quran menyebut Rasulullah sebagai uswatun hasanah, atau teladan yang baik, bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kehidupan akhirat.

Pesan tersebut menjadi relevan di tengah kehidupan modern yang dipenuhi persoalan kejujuran, ketimpangan, konflik sosial, penyalahgunaan kekuasaan, hingga melemahnya kepedulian terhadap sesama.
Keteladanan yang Melampaui Seremonial
Sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW menunjukkan perjalanan panjang sejak kelahiran, menerima wahyu pertama, dakwah di Makkah, hijrah ke Madinah, hingga wafat pada 632 Masehi.

sejumlah peristiwa penting dalam kehidupan Nabi, antara lain turunnya wahyu pertama sekitar 610 Masehi, hijrah ke Madinah pada 622, pembebasan Makkah pada 630, serta Haji Wada pada 631.

Dari rangkaian sejarah tersebut, Maulid Nabi dapat dimaknai bukan hanya sebagai peringatan historis. Lebih jauh, ia menjadi kesempatan untuk membaca kembali bagaimana Rasulullah menghadapi masyarakat yang terpecah, membangun solidaritas, menegakkan keadilan, dan mengajarkan pentingnya akhlak.
Sebab, kecintaan kepada Nabi tidak berhenti pada lantunan sholawat

Ia semestinya terlihat dalam cara seseorang memperlakukan keluarga, tetangga, orang miskin, pekerja, masyarakat yang berbeda pandangan, hingga mereka yang tidak memiliki kekuasaan.

Dari Masjid ke Ruang Publik

Momentum Maulid juga memiliki dimensi sosial. Ketika masyarakat berkumpul di masjid, majelis taklim, pesantren, maupun ruang publik, peringatan tersebut dapat menjadi pintu untuk memperkuat kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Semangat berbagi, membantu mereka yang membutuhkan, menjaga persaudaraan, dan menghindari permusuhan merupakan nilai yang dapat diterjemahkan dalam kehidupan sosial.

Di tengah derasnya informasi digital, keteladanan Nabi juga dapat diterapkan dalam cara menggunakan media sosial.
Tidak menyebarkan fitnah, tidak mudah menuduh, tidak memproduksi kebencian, dan memeriksa kebenaran sebuah informasi sebelum menyebarkannya merupakan bentuk sederhana dari menjaga akhlak.

Dengan kata lain, Maulid Nabi pada era digital bukan hanya tentang bagaimana seseorang memperbanyak sholawat, tetapi juga bagaimana ia menjaga lisan—termasuk lisan digitalnya.

Perbedaan Tak Menghapus Persaudaraan

Peringatan Maulid Nabi juga tidak berlangsung dengan cara yang sama di seluruh dunia Islam.

sebagian besar muslim di sejumlah kawasan, termasuk Asia Tenggara, memperingati 12 Rabiul Awal dengan berbagai kegiatan. Sementara itu, terdapat pula komunitas muslim yang tidak memperingati Maulid karena berpandangan bahwa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat tidak merayakan hari kelahiran beliau.

Perbedaan tersebut menjadi pengingat bahwa keragaman praktik keagamaan merupakan bagian dari realitas umat Islam.
Yang lebih penting adalah menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.

Menghidupkan Sunah, Bukan Hanya Mengingat Sejarah

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Maulid Nabi bukan seberapa meriah sebuah panggung didirikan atau seberapa banyak jamaah yang hadir.
Ukuran yang lebih substansial adalah apa yang berubah setelahnya.

Apakah kejujuran menjadi lebih kuat?
Apakah kepedulian kepada kaum lemah bertambah?
Apakah kebencian berkurang?
Apakah orang yang memiliki kekuasaan semakin sadar bahwa jabatan adalah amanah?
Dan apakah masyarakat semakin mampu menyelesaikan perbedaan tanpa saling merendahkan?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Maulid Nabi tetap relevan, bahkan di tengah perubahan zaman.

Nabi Muhammad SAW tidak hanya dikenang karena sejarah hidupnya. Beliau dikenang karena keteladanan yang terus menjadi rujukan umat Islam.

Karena itu, Maulid Nabi 1448 Hijriah semestinya tidak berhenti sebagai perayaan satu hari. Ia seharusnya menjadi pengingat untuk menghidupkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan setiap hari.

Sholawat dapat dilantunkan.
Sejarah dapat dikenang.
Tetapi pada akhirnya, keteladanan harus dijalankan.

(Red/RS)
Editor : Sofid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *